Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Biodiesel ‘Jelantah’, Energi Terbaru Pengganti Solar Featured

Biodiesel ‘Jelantah’, Energi Terbaru Pengganti Solar

KoPi| Satu lagi penemuan di bidang energi terbaru yang mampu menjadi energi alternatif sebagai antisipasi menipisnya sumber energi minyak bumi adalah biodesel 'jelantah'. Penelitian yang telah digarap oleh Tim PSE (Pusat Studi Energi), UGM selama 10 tahun terakhir ini menemukan biodiesel berbahan dasar jelantah sebagai pengganti solar. Sejauh mana hasil penemuan ini, Winda Efanur FS Reporter KoranOpini.com berkesempatan mewawancarai Prof. Arif Budiman selaku koordinator penelitian.

Selamat atas penemuan Biodiesel dari PSE (Pusat Studi Energi) UGM. Apa yang bisa dijelaskan tentang biodiesel ini kepada masyarakat ? Sekilas riwayat atau sejarahnya ?

Bermula dari Indonesia itu kan untuk bahan bakar, khususnya solar masih berasal dari minyak bumi. Sebetulnya 10 tahun yang lalu penelitian biodiesel ini sudah saya mulai. Saya yakin ke depan minyak bumi semakin habis dan harus diganti. Mulai pelan-pelan dengan bahan bakar yang berbasis terbarukan, kemudian penelitian saya lakukan, saya punya beberapa mahasiswa S1, S2, S3.

Nah, terus akhirnya setelah teknologi kami kuasai, kami berfikirlah, khususnya di Jogja pedagang kaki lima kan banyak sekali-ribuan. Selama ini mereka kan buang 3-4 liter jelantah begitu saja. Itu kalau dikumpulkan dijadikan biodiesel kan punya nilai tambah dan tidak menganggu lingkungan. Itu bisa menjadi energi.

Dari situ UGM melalui Tim PSE, bagaimana kalau kita cobalah membuat biodiesel ini tetapi berbasis masyarakat karena selama ini bisnis energi itu berpusat di Pertamina, di Jakarta. Harapannya pedagang kaki lima sendiri semisal punya koperasi kemudian membuat biodiesel dan mungkin bisa bekerjasama dengan bis kota - biodieselnya ini dipakai untuk mensubtitusi solar dari bis kota. 

Dari situlah ide itu muncul, kemudian kami disupport oleh USAID. Kebetulan mereka punya program Indonesian Clean Energy Development. Jadilah program ini. Kelebihan dari program kami tidak hanya sekedar membuat biodiesel tapi kami juga mengajari atau berikan training agar mereka bisa membuat sendiri. Dan dalam waktu yang sama dari tim ini khususnya dari Fakultas Hukum, UGM juga menyiapkan perangkat kebijakannya, dasar hukumnya, agar pedagang kaki lima ini bisa melakukan ‘bisnis’ energi tadi. Karena kalau mengacu kepada undang-undang yang ada sekarang kan tidak bisa harus melalui Pertamina. Pengelolaan energi kalau bisa jangan terpusat di Jakarta, di daerah juga diberi wewenang itu tadi ada, semacam didesentralisasi pengelolaan energi. Harapannya masyarakat bisa membuat biodiesel sendiri, mengelola sendiri. Itulah konsep pengelolaan itu bisa bergeser dengan desentralisasi.

Biodiesel berbahan dasar jelantah, apakah ramah lingkungan daripada solar? Bisa dijelaskan kelebihan dan kekurangannya ?

Kalau dari solar berbasis minyak bumi itu tingkat emisinya tinggi. Kalau nanti diberi biodiesel bisa mengurangi emisi. Sebenarnya biodiesel ini belum 100 % dimasukan di dalam kendaraan baru 15%. Biosolar yang ada di SPBU kandungannya baru 7,5 % biodiesel, jadi sekarang ditambah lah biodiesel sampai 15%, dicampur. Kemarin kan dari uji laboratorium bahwa memang dia (biodiesel) jauh lebih baik.

Hasilnya tidak berbeda jauh dengan solar Pertamina itu. Sekarang kan B15. Dari sisi laboratorium ya, tidak ada masalah. Kemarin kan saya tanya supirnya, "Bagaimana, Pak ini"? Beliau mengatakan, terutama knalpotnya, asapnya bisa lebih jernih. Ini sebenarnya yang merusak lingkungan kan itu, emisi CO dan CO2. Nah itu (biodiesel) bisa lebih jernih.

Kalau dari segi mesin ?

Secara teoritis mengalami penurunan sedikit sekitar 3 %, tetapi belum mengganggulah. Dari uji laboratorium penurunan 3 % masih batas toleransi. Tetapi kelebihan lain dengan penambahan biodiesel sebagai pelumas juga. Mesin menjadi dingin pelumasannya dibanding dengan solar biasa.

Kalau distribusi ke masyarakat, apakah mereka mengambil sendiri ke sini (PSE) ?

Kemarin kami membuat, ada yang sistem collecting, kami bekerjasama degan APKLI. Kami membeli jelantahnya kami buat di sini. Nanti ke depannya kami tidak bisa membuat terus. Jadi sistem yang ada ini dibuat ini kita sampaikan ke APKLI dengan harapan mereka bisa membuat sendiri. Bukan UGM terus yang membuat, nanti kita tidak berpikir lainnya. Dalam artian biodiesel ke depan.

Saat ini harga solar Rp 7.500, apakah harga Biodiesel jauh lebih murah ?

Tergantung dari harga jelantah. Kalau misalnya jelantah itung-itungannya 2 ribu. Bahan kimianya Bioethanol, KOH, tenaganya, sama listriknya jadi 4 ribu. Jadi kalau jelantah 2 ribu masih di bawah harga solar subsidi lah . Harga kimia 4 ribu , jelantahnya 2 ribu Jadi totalnya 6 ribu kira-kira.

Kalau bisa menjangkau nelayan, sepertinya nelayan bisa hemat , mereka kan yang sangat membutuhkan

Harapannya seperti itu. Bisa saja APKLI itu bisa bekerjasama dengan nelayan sehingga bisa digunakan oleh nelayan. Kami sebagai peneliti dan kawan-kawan akan mencoba berpikir membuat biodiesel, sekarang dalam proses itu bukan dari jelantah tetapi dengan mikro alga, tumbuhan yang di laut, ijo lumut itu.

Nanti ke depan sasarannya ke nelayan itu. Ya, tapi dengan bahan baku yang lain. Kira-kira misalnya para nelayan punya koperasi mereka bisa menanam mikro alga kemudian  bisa dibuat untuk biodesel.  Nah sekarang rencana kami seperti itu. Ya, target selanjutnya, saat ini dari jelantah besok dari mikro alganya. Kami punya program yang pengembangan petro alga, ini yang nantinya kami akan membuat biodiesel dari mikro alga.

Kalau sifat mikro alga sendiri gimana ?

Itu kan lumut, nanti kita press karena kan mikro alga mengandung minyak dan keluar minyak. Minyak ini yang akan dipakai minyaknya sebagai biodiesel. Harapannya nelayan yang diuntungkan jadi target selanjutnya memang seperti itu. Sekarang pedagang kaki lima nanti nelayan itu ya. Sekarang pemerintah juga sedang konsen pada bidang maritim.

Banyak wacana dan temuan di sektor energi terbarukan di Indonesia, tapi menghilang. Bukankah bahan ada di Indonesia, tetapi tidak mampu menjadi mainstream ? Tidak menjadi sumber energi utama

Sebenarnya itu banyak faktor itu ya, memang pemerintah itu sebenarnya sudah punya niat baik. Pemerintah harusnya menyiapkan aturan, kebijakan, memberikan kemudahan, misalnya dalam bentuk pajak dan bentuk yang lain. Harapannya swasta bisa masuk bermain di bidang energi itu.
Kalau Dulu booming, dulu jarak ya, booming diresmikan presiden rame gitu. Nah presiden pulang seminggu kemudian sudah lupa urusan sendiri-sendiri. Mudah-mudahan sekarang tidak. Pemerintah yang baru berniat mengawal betul pengembangan energi terbaru. Sebenarnya dari PSE sebulan yang lalu sudah bertemu dengan Menteri Kelautan,  Ibu Susi untuk usulan beberapa energi terbaru yang bisa dikembangkan untuk mensupport, misalnya dari alga salah satunya.

Jadi kendalanya terutama dari regulasi ?

Ya, terutama di regulasi, kemudian harus diawasi dan dikawal terus, ya pengawasan, siapa ini kementrian siapa yang harus mengawal terus gitu.

Dari segi anggaran, Prof.?

Memang kemarin itu kan belum sebandinglah, tetapi sekarang saya lihat dari ESDM akan ada dirjen sendiri yang mengurusi energi terbarukan. Kementrian di bawahnya yang betul-betul konsentrasi energi yang terbarukan. Indonesia potensinya banyak, diharapkan bisnis biodiesel bisa menggeliat. Tapi ada satu hal lagi, selama harga BBM masih murah energi terbarukan juga tidak bisa bersaing. Repot juga, di satu sisi misalnya saya mendukung kenaikan BBM, karena dengan kenaikan BBM bisnis energi terbarukan akan bergairah tapi di sisi lain kasihan rakyat. ini terjadi tarik ulur. Karena selama ini energi terbarukan masih murah. Ya, subsidi mulai dikurangi bukan menaikan. Harusnya bagian ini dipakai untuk sektor pengembangan energi terbarukan.

Iya memang ini harus dikembangkan, karena solar habis beberapa tahun ke depan?

Iya penelitian saya 10 tahun yang lalu, sekitar 30 tahun ke depan hitung-hitungannya solar akan habis.

Kalau ini penemuannya sudah selesai, Prof. ?

Ya, dalam arti begini. Ini kan yang dari jelantah sudah. Sekarang kami serahkan kepada APKLI tentunya. Dalam hal ini Dinas Perhubungan mensupport. Biar saya berpikir yang lain.

Selain sektor minyak bumi-solar, yang energi yang perlu kita teliti lagi- dikembangkan, apa saja Prof. ?

Ini kan untuk banyak, terutama untuk daerah terpencil, daerah pulau terluar. Makanya PSE punya program juga terutama tenaga surya di Pulau Karimun Jawa, ini kan terpencil. Karena itu, kalau terjadi ombak tinggi berbulan-bulan repot juga.

Program tenaga surya ini sudah berapa persen ?

Ini sudah hampir selesai. Ini kan proyeknya bersama-sama dengan biodiesel. Sponsornya sama, kami dapat dana dari USAID dan dari Jeman. Tim Karimun Jawa sama tim biodiesel bersama-sama.

Kalau semisal dipersenkan, penemuan di Indonesia yang berhasil teraplikasikan berapa persen ?

Secara prinsip begini, penelitian kan dimulai dari skala lab, skala menengah dan skala industri. Biasanya dari skala lab ini yang bisa masuk ke skala menengah pada kisaran 20%-30% dari semua peneliti-peneliti. Nah dari skala menengah ke skala industri itu kisaran 10%-20% dari total hasil penelitian. Jadi memang perjalanannya panjang sekali, karena peneliti biasanya mesti di lab, belum bergerak ke skala menengah. Jadi sekitar antara 5%-10% lah. Sekarang istilah yang populer hilirisasi dimana produk penelitian bisa dihilirkan ke masyarakat.

Tergantung faktor apa agar bisa goal penelitian ?

Memang banyak hal ya, yang mempengaruhi. Pertama adalah kompetisi dari teknologi yang dikembangkan dengan teknologi yang sudah ada.  Artinya penelitian kan, oke saya bisa membuat teknologi baru, tapi kalau teknologi baru ini diaplikasikan ke skala industri dengan harga jauh dari teknologi yang sudah ada - Ya, otomatis dari faktor ekonomi juga ya, saya kira itu yang utama. Jadi harganya yang bersaing kemudian spesifikasi produknya produknya tidak berbeda jauh dari yang sudah ada atau yang sebagai pembanding tadi.

Dan ini bisa semacam bekal untuk pasar bebas 2015 ?

Saya kira bisa saja. Sekarang kan pemerintah membeli dan harganya cukup besar. Perhitungannya itu di atas harga subsidi sekarang. Jadi harapannya kalau ini bisa ditingkatkan daerah-daerah ada, kalau daerah bisa membuat sendiri, dengan jelantah; maka pemerintah pekerjaannya bisa berkurang - sebagian diurusi oleh UKM-UKM tadi.

Harapan bagaimana, Prof ?

Sistem yang ada ini, asosiasi pedagang kaki lima bisa mengaplikasikan betul dengan dukungan pemerintah daerah, Dinas Perhubungan RI yang membawahi bis kota, membawahi kebijakan semua jalan bersama. Jadi tidal sendiri-sendiri. Jika pedagang kali lima bisa buat dan mau dikemanakan, ya bisa bersinergilah. |Winda Efanur FS|
 

Baca juga:

Free e-book Negara Gagal Mengelola Konflik 

Inilah cara kerja mafia migas

Inilah ekspresi wajah Jokowi di lokasi bencana Banjarnegara

 

back to top