Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pesan Berakhirnya Perang dari Bandung

Pesan Berakhirnya Perang dari Bandung

‘Studioku di Galerimu’ itulah tajuk Proyek Seni Iwan Ismael di Galeri Depan, Rumah Proses, jalan Mutumanikam 47. Buahbatu, Bandung yang dibuka pada hari Sabtu, 25 Agustus 2018 pukul 19.30 WIB dan berlangsung sampai tanggal 9 September 2018. Menawarkan kopi dan kehidupan pigur masyarakat urban jaman sekarang di negeri ini, serta tokoh fenomenal dengan teknik stencil.

Pameran ini ekspresi antusiasme dan partisipasi aktif pemilik Rumah Proses, Rudi ST Darma dengan Iwan Ismael terhadap hajatan akbar Bandung Connex Art Month pada bulan Juli sampai Agustus 2018. Pada Proyek seni Iwan Ismael memberikan pesan bahwa perang telah berakhir. Pesan itu dititipkannya melalui karya yang mengambil pigur presiden Korea Utara dan Korea Selatan yang notabene berbeda pandangan politik dan ideologi sepakat berdamai, bersalaman mengakhiri perang. Karya setinggi 5 meter, lebar 3 meter diposisikan sebagai pintu gerbang. Mengisyaratkan kita memasuki wilayah perdamaian: tanda cinta kasih antar sesama bersemi, rasa kasih sayang dimuliakan.

Moment bersalaman pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Korea Selatan, Moon Jae-in pada pertemuan Konsprensi Tingkat Tinggi (KTT) setelah mereka bermusuhan 65 tahun, resmi menyatakan berakhirnya perang dan era baru perdamaian dimulai. Moment ini seolah meruntuhkan kekuasaan yang arogan, dan memberi pengertian bahwa menciptakan perdamaian untuk mencapai kesejahteraan, serta keutuhan bangsa tidak perlu dengan kekerasan apalagi senjata.
Sikap yang ditunjukkan oleh kedua pemimpin Korea itu, tentunya dapat menjadi tauladan bagi para pemimpin rumah tangga yang menjadi pemimpin pemerintahan, guru, pemimpin organisasi dan pemimpin masyarakat. Menciptakan perdamaian itu tidak mudah kalau tidak ada keinginan mewujudkannya.

Kita juga diajak melihat berbagai peran dan pigur dari bangsa sendiri dalam realitas hidup seperti diwakilkan pada puluhan pigur masyarakat urban yang dipertemuakan dalam satu ruang pamer. Ekspresi dan karakternya menampakan heroisme perjuangan mempertahankan dan mempertaruhkan hidup berbangsa bernegara, serta bermasyarakat. Begitupun kopi serta perlengkapan memasaknya sekaligus penyeduhnya yang turut dihadirkan, menjadi media penghantar mencairkan suasana merenggangkan ketegangan, dan siapapun menginginkan damai.

Proyek Seni Jaringan

Kejelian Rudi ST Darma pemilik Rumah Proses mengkoneksikan Iwan Ismael dengan Bandung Connex sehingga beberapa kota dan orang-orang yang terlibat proyek seni ini seperti tombol listrik, ketika tombol dinyalakan maka semua jaringannya terhubung.

Lebih dari 50 stencil karya Iwan Ismael yang lengket di dinding-dinding dibeberapa kota Indonesia sebut saja Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Tegal, Bali, dipertemukan dalam sebuah ruang Galeri Depan, Rumah Proses dengan berbagai ukuran. Dirancang seperti ruang perdamaian dengan kopi pemantik dialog, itulah kondisi studio Iwan di galeri Rudi.

Dalam mempresentasikan karyanya, Iwan menyemprot ulang karya stencilnya di sekeliling dinding Galeri dengan mengunakan warna hitam dan abu-abu. Dia memperlakukan karyanya sama seperti ketika menandai dinding dibeberapa titik kota, menjadikan dinding galeri banyak bercerita mengenai kehadiran pigur masyarakat urban dan dinding itu menjadi sangat berharga. Sebagaian karya ditempatkan disepuluh neon box ukuran 40cm x 60cm x 5cm.

Karya-karya yang melekat di dinding galeri mengkoneksikan antar dinding-dinding kota yang ditandai karya stencilnya. Sehingga proyek seni Iwan tidak hanya berusaha mengkoneksikan kesenian, dan seniman yang ada di Bandung, namun dengan pameran ini Iwan berhasil mengkoneksikan beberapa kota di negeri ini melalui karya stencilnya dan orang-orang yang terlibat.

Tidak ada penempatan lighting secara khusus pada ruang pamer tersebut, cukup dengan sepuluh neon box yang sekaligus bagian dari karyanya. Penonton dapat merasakan suasana damai dari teriakan-teriakan keresahan pigur-pigur karya stencil yang berperan mewakili profesinya di masyarakat.

Tungku Bromvit dan Kopi

Selain karya stencil, Proyek Seni Iwan berupa Tungku Bromvit serta perlengkapan memasak kopi yang selalu dibawa ketika bekerja di luar kota dan menandai dibeberapa titik dinding kota itu.

Ada dua protipe tungku Bromvit pertama tungku diletakan di belakang sepeda sehinggga tungku itu dapat dibawa berkeliling menyusuri jalan dan sebagai karya seni tiga dimensi didisplay di tengah ruangan. Kedua, tungku yang diletakkan di atas meja. Tungku Bromvit kreasi Iwan ini menggunakan bahan bakar daur ulang dari ampas kopi yang dijadikan briket. Ampas kopi dari sisa seduhan digunakan sebagai bahan bakar memasak kopi dihidangkan dalampameran. Ini seperti cermin dari pesan damai dengan alam dan mahluknya.

Kopi sebagai kekayaan sumber daya alam negeri ini yang dihidangkan memberi energi semangat kebersamaan dan berkeadilan. Semua patut bicara berbagai masalahnya, menghargainya, mencarikan solusinya, menghantarkan pada perdamaian dan kesejahteraan bersama. Begitulah yang selayaknya dibangun cita-cita luhur bersama dalam perdamaian abadi.

Satu lagi adalah kaplampu dari bambu berbentuk kurungan burung memenuhi langit-langit galeri. Tidak hanya sebagai pelengkap ruang saja, mengisyaratkan bahwa kita butuh penerang, namun secara pribadi semua itu memiliki hubungan yang khusus dengan karya dalam proyek ini.

Figur Iwan Ismael

Iwan ismael kelahiran Medan Juni 1966 kali pertama pameran tunggal karya stencil, dari ratusan karya yang telah dibuatnya. Dalam kurun waktu empat tahun secara intens mengerjakan stencilnya. Di sela-sela waktu kerja ia mengumpulkan ampas kopi dan mengkereasikan tungku yang berbahan bakar briket dari ampas kopi.

Sementara pigur-pigur yang menjadi objek stencil memiliki hubungan secara emosional, tidak serta merta objek yang dijadikan stencil menjadi karya yang bisa dipresentasikan. Pigur-pigur itu pernah bertemu dan berdialog. Mereka masyarakat biasa bukan orang-orang terkenal. Seperti tukang las, tukang sampah, anak-anak kampung, polisi, tukang parkir, seniman, dan ada beberapa pigur tokoh yang monumental serta pigur idola masyarakat. Namun yang tidak kalah menariknya adalah riwayat dari pigur-pigurnya dan proses pertemuannya hingga menjadi karya stencil, itu hanya milik senimannya.

Peristiwa yang dialami pigur-pigur dalam karya stencil dengan proses memasak kopi, dialog antar pengunjung pameran dan penyeduh kopi seperti sebuah drama yang selalu berubah topik pembicaraan, berbagai ekspresi, polemik dan klimaksnya. Namun semua berada dalam koridor perdamaian yang sejuk, demokratis dan menyenangkan. Seperti menikmati pahitnya kopi dan manisnya gula.

Melihat pigur Najwa Sihab stencilan yang disemprot warna abu-abu di dinding dipojok ruang seperti sedang mewawancarai semua pigur yang hadir dan mendengarkan pembicaraan para pengunjung pameran. ‘Studioku di Galerimu’ adalah ruang belajar bagaimana berbagai masalah sosial diselesaikan dengan azas kerukunan dan gotong royong mencapai mufakat, didialogkan dalam sebuah forum seperti cita-cita para pendiri negeri ini.
Tasikmalaya, 1 September 2018


-Jajang R Kawentar penulis Art Critique Forum Yogyakarta

back to top