Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

AADC 2 dan Riri Reza layak mendapatkan Citra

AADC 2 dan Riri Reza layak mendapatkan Citra

Melihat Ada Apa Dengan Cinta 2, semua yang dinistakan pada karya Riri Reza oleh sementara orang, pupus bagi saya, menjadi tampak berlebihan. Saya justru merasa terhibur dan menangkap banyak pesan menarik dan bermutu.

Nista-nista itu seringkali dilekatkan pertama, pada soal alur logika dimana perpisahan 14 tahun antara Cinta dan Rangga bisa membawa beban asmara yang sama dan bahkan menjadi happy ending yang mirip film kelas FTV. Kemungkinan seperti ini dianggap tidak logis. Kemudian terlalu banalnya film ini yang bertabur dengan produk sponsor.

Bagi saya, yang mengimani teori probilitas semua hal yang ada di dunia adalah mungkin dan nyata. Jangankan perpisahan 14 tahun yang bisa dengan pelbagai sebab, atau coba kita lihat penantian panjang Florentino Ariza untuk mendapatkan cinta Fermina Daza selama 53 tahun kesetiaan tanpa batas -dalam novel Love in Time of Cholera karya Gabriel Gracia Marquez -karya-karya posmodernisme bahkan mampu menciptakan dunia yang lebih tak terbayangkan oleh manusia linier manapun, seperti The Matrix atau Avatar.

Kemudian, masuknya produk-produk sponsor, sesungguhnya adalah niscaya dalam sebuah industri film. Toh, selama ia melekat pada cerita dan tidak dipaksakan tentunya tak ada persoalan. Setidaknya bila kita tidak naif, dalam realitas hidup kita tiap hari berhadapan dengan banyak merk produk.

Berhasil

Dalam Ada Apa Dengan Cinta 2 bahkan saya melihat kemampuan Riri Reza mendobrak kezumudan kalangan seniman kita yang sering terjebak dengan model sok serius, gelap atau menggurui dan profetik namun gagal mendapatkan perhatian publik secara jujur. Bahkan lebih sering banal dan parodi kosong.

Riri Reza sebaliknya mampu mengkemas hal-hal yang bernilai high art seperti sastra, seni rupa dalam budaya pop yang menyenangkan. Sehingga pesan-pesannya menjadi sampai dan berhasil membangun primming, seperti yang dijelaskan Severin, bahwa primming media memberikan pengaruh terhadap perilaku sosial. Perilaku yang dicontoh dari perilaku yang diperlihatkan melalui media seperti film ( Severin,2005:271).

Masyarakat pop yang selama ini tak mampu memberikan apresiasi terhadap karya-karya sastra dan seni mulai menjadi tertarik dan terprimming dari karakter Cinta dan Rangga yang hidup dalam pesona sastra dan seni.
Meskipun puisi-puisi Aan Mansyur seperti Batas, misalnya, tak seindah puisi-puisinya yang lain yang sering muncul di Media. Toh demikian, ia tak mengurangi integritas film ini.

Film ini, tentu saja, dalam ukuran pengetahuan saya adalah film pop dengan hasrat kebudayaan yang bermutu dan berhasil. Setidaknya film ini berhasil menjadi karya yang menghibur, informatif dan edukatif. AADC 2 dan Riri Reza layak mendapatkan Piala Citra.

back to top