Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi

Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi

Judul Buku : Ibn Khaldun (Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi)
Penulis : Syed Farid Alatas
Penerbit : Mizan, Bandung
Cetakan : I / Januari 2017
Tebal halaman : 208 halaman

Dalam khazanah perkembangan ilmu sosial, nama Ibnu Khaldun sering disebut-sebut secara sepintas. George Ritzer, misalnya, juga memuat biografi singkat Ibn Khaldun dalam bukunya “Teori Sosiologi Klasik dan Modern (2004). Buku karya Sosiolog asal Amerika Serikat ini tergolong karya yang paling banyak diterjemahkan dan paling laris di Indonesia. Namun, Ritzer sekedar menyajikan biografi Ibnu Khaldun semacam suplemen tekstual, bukan pembahasan yang mendalam.

Bahkan, pada konteks pengajaran Sosiologi di perguruan tinggi di Indonesia, Ibnu khaldun belum mendapatkan tempat yang luas. Terlihat misalnya dari mata kuliah di progam studi Sosiologi, topik pemikiran Ibnu Khaldun tidak masuk dalam kajian teori Sosiologi klasik. Kalaupun ada teoritisi sosial klasik_selain Auguste Comte, Karl Marx, Emile Durkhiem_yang muncul adalah Herbert Spencer dan George Simmel. Ibn Khaldun tidak dimasukkan dalam topik kurikulum yang harus didiskusikan di dalam kelas yang penuh semangat.

Syed Farid Alatas, seorang Profesor Sosiologi dari National University of Singapore (NUS), menulis buku berjudul Ibn Khaldun; Biografi Intelektual dan Pemikiran Sang Pelopor Sosiologi yang diterbitkan oleh Mizan. Karya ini pada awalnya berbahasa Inggris berjudul Ibn Khaldun yang diterbitkan Oxford University Press tahun 2013. Perlu diketahui bahwa penulis buku ini merupakan putra dari Sosiolog termasyhur asal Malaysia kelahiran Bogor, Syed Hussein Alatas (1928-2007). Syed Hussein Alatas terkenal dengan sejumlah karyanya. Diantaranya, “Sosiologi Korupsi” (1986) dan “Mitos Pribumi Malas” (1988), keduanya diterbitkan oleh LP3ES, Jakarta.

Tampaknya, penulis buku ini melanjutkan tradisi sebagai keluarga ilmuwan sosial sekaligus penulis buku berbobot. Buku yang terdiri dari enam bab ini secara sistematis membahas tentang biografi, perkembangan pemikiran serta pengaruh Ibnu Khaldun dalam arena wacana intelektual, khususnya dalam ilmu sejarah dan ilmu sosial modern.

Ibn Khaldun lahir 27 Mei 1332 di kota Tunis Tunisia, sebuah negeri di kawasan Utara Afrika. Negara yang pada beberapa tahun terakhir ini dikenal sebagai awal mula munculnya Arab Spring (Musim semi Arab). Secara geneologis, keluarga leluhurnya berasal dari Jazira Arab serta bermigrasi ke Andalusia, kemudian pindah ke Tunisia. Selain mencintai dunia intelektual, ia juga terlibat dalam aktivitas politik dan pemerintahan dalam kemelut persaingan kekuasan diantara dinasti-dinasti Arab yang berada di kawasan Afrika Utara. Meskipun pada akhirnya dia memilih dunia keilmuan hingga akhirnya meninggal dunia di Kairo Mesir pada 19 Maret 1406.

Ibnu Khaldun dikenal sebagai salah satu ilmuwan Muslim paling populer era pra-modern. Dia merintis apa yang disebutnya sebagai ilmu masyarakat manusia (‘ilmu al ijtima’ al insani) atau ilmu organisasi sosial manusia (‘ilmu al’umran al bashari), serta metodologi dalam penulisan sejarah. Di buku Muqoddimah, ia menyebutkan bahwa ilmu baru tersebut tidak seperti karya-karya kesarjanaan lama yang cenderung etis-religius atau filosofis. Bahasan topik seperti ini cenderung memposisikan bahasan masyarakat, dinasti, politik serta pemerintahan dari perspektif normatif.

Studinya bersifat kritis dan analitis tentang masyarakat sebagaimana adanya (das sein) dan bukannya sebagaimana seharusnya (das sollen) (hlm. 72). Ilmu inilah yang kemudian di era modern dikenal sebagai Sosiologi yang diperkenalkan oleh Auguste Comte jauh setelah Ibn Khaldun wafat.

Dalam buku Syed Farid Alatas, juga memperkenalkan pemikiran utama Ibnu Khaldun terkait teori kebangkitan dan keruntuhan suatu negara. Berdasarkan pembacaannya terhadap bangsa-bangsa di kawasan Afrika Utara, peletak dasar Sosiologi ini memperkenalkan konsep ‘Ashabiyyah. Istilah ini diterjemahkan sebagai solidaritas kelompok, esprit de corps, atau loyalitas kelompok.

Lebih lanjut, Ibnu Khaldun mendefinisikan ‘ashabiyyah sebagai perasaan tentang kesamaan dan kesetiakawanan terhadap suatu kelompok yang dibangun berdasarkan ikatan darah. Selain terbentuk melalui ikatan atau hubungan darah (shilat al rahim), ‘ashabiyyah’ juga bisa terbangun dengan hubungan patron-klien (wala’) serta aliansi (hilf) (hlm. 85).

Selain membahasa konsep di atas, buku karya Farid Alatas ini juga membahas gagasan Ibn Khaldun terkait pengetahuan dan pendidikan dalam masyarakat. Menurutnya, salah satu ciri yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya terletak pada kemampuannya berfikir. Kemampuan berfikir menghasilkan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi. Manusia menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak berada di ruang hampa. Akan tetapi, dalam konteks masyarakat dimana mereka berada (107). Menurut Cheddadi (1994) dalam menelaah pendidikan, ibn Khaldun tidak mendekatinya dengan cara tradisional sebagaimana filsuf, teolog, moralis, dan ahli fikih. Akan tetapi, ia mendekati dunia pendidikan sebagai sosok sejarawan dan sosiolog.

Sebagai seorang ilmuwan cemerlang yang hingga kini masih diperhitungkan, karya-karya Ibn Khaldun juga banyak mendapatkan sorotan dan perdebatan dari berbagai kalangan. Ibnu Khaldun memiliki pengagum besar di kalangan sarjana di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah. Meskipun demikian, ada salah seorang sejarawan sekaligus ahli hadits, Ibn Hajar Al-asqalani mengkritik karya-karya Ibn Khaldun. Ibn Hajar memuji pengetahuan Ibn Khaldun dalam urusan kenegaraan, kefasihan, dan apresiasi puisinya. Namun, Ibn Hajar mengejek ilmu masyarakat-manusia Ibn Khaldun. Bahkan, ia mengatakan bahwa tulisan Ibn Khaldun dalam magnum opus-nya, Muqoddimah, terlihat sangat baik karena dihiasi dengan retorika (hlm. 136).

Terlepas dari kritikan di atas, karya Khaldun mendapatkan perhatian yang luar biasa pada abad ke- 19 di kalangan ilmuwan Eropa, terutama di masa pembentukan berbagai disiplin ilmu-ilmu sosial modern. Ia disebut sebagai salah satu sarjana yang ikut meletakkan dasar bagi pembentukan ilmu-ilmu sosial yang bersifat empirik.

Tidak heran karya-karyanya diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa Eropa seperti Inggris, Perancis, Jerman, dan Spanyol. George Saton (1884-1956), sang pelopor sejarah ilmu pengetahuan, mengatakan bahwa Ibn Khaldun adalah sejarawan, politisi, sosiolog, ekonom, dan pengkaji serius masalah-masalah kemanusiaan yang mempertautkan masa lalu manusia untuk memahami masa kini dan masa depan. Tidak hanya seorang sejarawan terbesar abad pertengahan, yang menjulang bagai raksasa di kalangan suku-suku primitif, dialah salah satu filsuf sejarah pertama yang menjadi peletak dasar bagi gagasan Machiavelli, Bodin, Vico, Comte, dan Curnot. (hlm. 140-143).

Di bab terakhir buku ini, Syed Farid Alatas menawarkan agenda strategis untuk membangun “Sosiologi Khaldunian” (156). Yaitu, upaya serius untuk mengembangkan teori-teori Ibn Khaldun dengan mengaplikasikannya pada kasus-kasus historis dan empiris, serta mengintegrasikan ke dalam ilmu-ilmu sosial modern. Hal itu diwujudkannya dengan menjadikan pemikiran Ibn Khaldun sebagai salah satu perspektif teoritis dalam ilmu-ilmu sosial, mengembangkan konsep-konsep Khaldunian, serta mengangkat topik-topik yang dibahas oleh Ibnu Khaldun dikontekskan dengan problematika masyarakat kekinian.

Terakhir, menurut saya, pemikiran Ibnu Khaldun tentang konsep ‘ashabiyyah (solidaritas dan loyalitas bangsa) sangat penting dijadikan alat baca melihat situasi Indonesia saat ini. Khususnya dengan semakin berkurangnya rasa persatuan dan kesatuan akibat ketegangan dan konflik politik yang berkepanjangan pasca pemilihan umum. Bila ‘ashabiyyah sebagai satu bangsa Indonesia kita sudah luntur, maka kekhawatiran akan jatuh-bangunnya suatu bangsa bisa terulang kembali seperti yang diperingatkan Ibn Khaldun jauh berabad-abad yang lalu. Semoga hal itu tidak terjadi di Republik Indonesia tercinta ini.

*) Dosen Sosiologi Pendidikan di Sosiologi Unesa dan kini sedang mengikuti program doktoral di Center for Policy Research and International Studies (CenPRIS) Universiti Sains Malaysia

back to top