Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

BELAJAR KEAJAIBAN DARI WARGA ASEAN

BELAJAR KEAJAIBAN DARI WARGA ASEAN
Judul Buku: The ASEAN Miracle;  A Catalyst for Peace
Penulis : Kishore Mahbubani dan Jeffery Sng
Penerbit: National University of Singapore (NUS) Press, Singapura
Tahun terbit: Cetakan Pertama, 2017
Tebal : xviii+264
ISBN : 978-981-4722-49-0
ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) kini berusia 50 tahun. Tepat pada tanggal 8 Agustus 2017 lalu. Kishore Mahbubani dan Jeffery Sng (keduanya dikenal sebagai mantan diplomat Singapura) menulis buku sebagai kado perayaan ulang tahun ASEAN. Buku tersebut berjudul The ASEAN Miracle:  A Catalyst for Peace atau Keajaiban ASEAN: Penggerak Perdamaian. Kedua penulis memandang bahwa selama lima dekade ini organisasi regional tersebut telah meraih pencapaian yang luar biasa. Bukan hanya dalam membawa perdamaian dan kemakmuran di kawasan yang didiami oleh sekitar 625 juta penduduk, tapi juga dalam menjaga stabilitas di antara kekuatan China dan Amerika Serikat di Asia Tenggara.  
 
Siapa mengira bahwa di antara lima negara pendiri merupakan negara-negara yang sebelumnya pernah mengalami ketegangan, konflik, bahkan, berujung pada perang diantara mereka. Kelima negara tersebut adalah Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura dan Filipina. Sebelum berdiri pada tahun 1967, negara tersebut pernah berkonfrontasi. Antara Indonesia dengan Malaysia dan Singapura (1963-1965), Malaysia mengeluarkan Singapura dari Federasi Malaya (1965), Malaysia bersitegang dengan Thailand dalam kasus perbatasan dan juga dengan Filipina dalam kasus Sabah. Namun, mereka duduk bersama menatap masa depan dan membangun kerjasama yang berujung lahirnya ASEAN.
 
Kawasan Kemajemukan
 
Uniknya, kelima perwakilan negara pendiri ASEAN merupakan representasi kemajemukan dari berbagai unsur budaya dan agama. Adam Malik dan Tun Abdur Razak merupakan seorang muslim yang berasal dari Indonesia dan Malaysia. Thanat Khoman seorang penganut Budha dari Thailand yang berpendidikan Perancis. S Rajaratnam keturunan Tamil India yang lahir dari keluarga Hindu mewakili Singapura, serta Narciso Ramos perwakilan Filipina yang beragama Kristen (hlm. 9-11). Merekalah para penandatangan Deklarasi Bangkok 1967 telah menunjukkan pada kita bahwa ASEAN sebagai kawasan kemajemukan budaya, agama, dan politik nyatanya masih bisa bekerjasama. 
 
Pada perkembangannya, negara lainnya juga ikut bergabung, seperti Brunei Darussalam (1984), Vietnam (1995), Laos dan Myanmar (1997), serta Kamboja (1999). Walau Vietnam dan Laos menganut komunisme sebagai Ideologi negara. Padahal, salah satu alasan berdirinya ASEAN adalah dalam rangka membendung komunisme. Tapi, perubahan geopolitik dan ekonomi dunia membuat perbedaan ideologi negara bukan lagi hambatan di internal ASEAN. Inilah kelebihan ASEAN yang lebih lentur dibandingkan dengan Uni Eropa yang terlihat agak kaku. Inilah wujud kearifan pemimpin ASEAN yang dapat menerima perbedaan dan menjadikannya sebagai kekuatan bersama. 
 
Asia Tenggara merupakan kawasan paling majemuk di dunia. Selama hampir 2000 tahun lebih kawasan ini menjadi titik pertemuan dari berbagai arus budaya sekaligus peradaban besar. Empat arus peradaban besar dunia, seperti India (Hindu dan Budha), Cina, Islam dan Barat telah hadir dan sekaligus memberikan pengaruh bagi negara-negara di sekitarnya. India, Islam, dan Cina datang dan berkembang dengan jalan damai. Sedangkan, Barat datang dan berkembang dengan cara kekerasan imperialisme dan kolonialisme (hlm. 15-18).
 
Kenyataannya bahwa hampir semua negara-negara di Asia Tenggara minus Thailand pernah merasakan kekejaman penjajahan Inggris, Belanda, Spanyol, Perancis, dan Amerika Serikat.  
 
Gejolak di Asia Tenggara
 
Jika Timur Tengah merupakan kawasan peperangan dan berdarah, maka Asia Tenggara dikenal sebagai kawasan yang damai. Peperangan yang pernah terjadi pasca Perang Dunia Kedua adalah Perang Arab-Israel (1967 dan 1973), Perang Iraq-Iran (1980-1988), Invasi Iraq ke Kuwait (1990), Invasi Amerika Serikat ke Iraq (2003) dan perang di Syria dan Yaman hingga saat ini. Tapi, menurut Kishore dan Jeffery, peperangan di Asia Tenggara termasuk paling lama dalam sejarah. Mulai dari Perang Vietnam-Amerika Serikat yang terjadi di Indocina (Vietnam, Kamboja, Laos) sejak 1954 hingga jatuhnya Saigon tahun 1975. Kemudian berlanjut Perang Vietnam-Cina. Perang ini dipicu invasi Vietnam ke Kamboja (1978) yang saat itu berada di bawah pemerintahan Khmer Merah yang didukung oleh Cina.
 
Jumlah bom yang dijatuhkan di kawasan Asia Tenggara pasca perang dunia kedua lebih banyak dibandingkan diantara kawasan-kawasan lainnya di dunia. Hal ini diperkuat oleh pernyataan Presiden Barack Obama ketika berkunjung ke Laos pada bulan 6 September 2016.
 
 
“Amerika Serikat telah menjatuhkan lebih dari dua juta ton bom di sini (Laos). Lebih banyak dari pada kami menjatuhkan bom di Jerman dan Jepang bila digabung selama Perang Dunia II. Hal ini membuat Laos menjadi negara paling banyak dibom dalam sejarah. Sebagaimana ungkapan orang Laos, bom-bom itu seperti layaknya hujan”(hlm. 7).
 
Ketika ASEAN berdiri tahun 1967, tidak semua negara-negara yang berada di kawasan tersebut sepakat dan tertarik untuk bergabung. Bahkan, Vietnam awalnya mencurigai bahwa ASEAN sebagai alat kepentingan Barat (Amerika Serikat). Hal itu bisa dipahami karena berdirinya ASEAN dilatarbelakangi oleh adanya ancaman gerakan Komunis. Karena itulah, Vietnam menolak keras kelahiran ASEAN. Pasca runtuhnya Uni Soviet (1991), Vietnam lebih realistis. Meskipun secara ideologi politik sama dengan RRC, Vietnam hingga kini memang tidak begitu akur. Wajar apabila Vietnam bergabung dengan ASEAN pada tahun 1997 sebagai penyeimbang terhadap ancaman RRC. 
 
Upaya mempertahankan ASEAN yang terus berkembang bukanlah sesuatu yang mudah dalam hubungan regional. Peran “pemimpin kuat” tak bisa disangkal selama era 1980 - 1990-an. Hubungan antara Presiden Soeharto (Indonesia), Mahathir Muhammad (Malaysia), dan Lee Kuan Yew (Singapura) terjalin dengan baik dengan komunikasi saling menghormati diantara mereka (hlm. 59). Peran Indonesia sangat penting sebagai negara terbesar dari segi wilayah dan penduduk. Meskipun demikian, Indonesia memberi kesempatan kepada yang lain untuk “berlatih” memimpin di dalam organisasi regional yang berpusat di Jakarta tersebut. 
 
Di organisasi regional lainnya, ada kecenderungan negara-negara yang besar ingin mendominasi. Semisal, Amerika Serikat di Organization of American States, India dalam South Asian Association for Regional Cooperation, dan Arab Saudi dalam Gulf Cooperation Council di kawasan jazirah Arab. Berbeda dengan Indonesia yang justru memberikan kesempatan negara lainnya, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand untuk aktif dalam sistem kepemimpinan di ASEAN. Indonesia dianggap oleh kedua penulis buku ini menunjukkan sikap kedewasaan serta lebih berperan di ruang belakang (hlm. 60).
 
Masa Depan ASEAN
 
Masa depan ASEAN sangat ditentukan oleh keputusan internal para pemimpin negara-negara anggota. Sekaligus, dibayang-bayangi oleh kebijakan-kebijakan kekuatan-kekuatan besar  (great powers) dalam ekonomi dan politik dunia. Suka tidak suka para pengambil kebijakan organisasi kawasan ini harus memahami dinamika ekonomi politik Amerika, Cina, Uni Eropa, India, dan Jepang. 
 
Secara geopolitik, kawasan Asia Tenggara memang sangat strategis. Di sisi lain, kawasan ASEAN memancing perebutan pengaruh di antara kekuatan ekonomi politik global, khususnya antara Amerika dan Cina. Sehingga, ASEAN dituntut cerdik dan cermat mendayung diantara dua karang. Supaya, ASEAN tidak menjadi korban kompetisi sengit di antara dua kekuatan besar. Sebaliknya, bila mampu membaca peluang strategis dan hidup kompak, ASEAN akan menjadi penyeimbang di antara kekuatan besar yang sedang berebut pengaruh di dunia. 
 
Kishore Mahbubani, dalam bukunya yang berjudul The New Asian Hemisphere: The Irresistable Shift of Global Power to East (2008), sangat optimis melihat kebangkitan Asia dan peranannya dalam percaturan dunia. Dalam karya lainnya, The ASEAN Miracle, dia bersama Jeffery juga sangat yakin bahwa ASEAN dapat memberikan pelajaran berharga dan bermanfaat bagi dunia. Seharusnya kawasan lainnya, termasuk Eropa dan Timur Tengah, juga tidak segan-segan belajar mengenai upaya menjaga perdamaian regional dari ASEAN.
 
Meskipun demikian, kedua penulis juga melakukan kritik terhadap ASEAN yang kurang berhasil membangun “sense of belonging” di kalangan masyarakat mereka. Untuk memperkuat solidaritas di Asia Tenggara, tak ada salahnya bendera ASEAN dipasang di kedutaan besar bersanding dengan bendera negara masing-masing. Kalau perlu, materi ASEAN bisa masuk dalam pendidikan sekolah sebagai bagian dari internalisasi kesadaran warga ASEAN.
 
Kalau Brasil bisa menjadi tuan rumah Piala Dunia, mengapa ASEAN tidak bisa mengajukan diri menjadi tuan rumah. Bukankah sepak bola punya daya magnetik guna memperkuat solidaritas ? Sekian.  
 
back to top