Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #8

  • Read: 263

1 November 1900

Kabar baik!

Saya boleh! Saya boleh! Saya boleh! Ucapkan selamat kepada saya! Berilah saya tempat dalam angan-angan kalbu nyonya dan bacalah kebahagiaan saya dalam mata yang berbinar-binar! Nyonya tercinta, saya boleh belajar menjadi guru!

Surat Kartini: Kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri #7

  • Read: 759

7 Oktober 1900

Saya menunggu waktu saya dengan tenang. Kalau waktu itu tiba, maka orang akan melihat bahwa saya bukan benda mati, tetapi manusia. Dengan kepala dan hati yang dapat berpikir dan merasa.

Surat Kartini: Kepada Nona Estela H. Zeehandelaar #5

  • Read: 391

12 Januari 1900

Pergi ke Eropa! Samapi napas yang penghabisan hal itu akan tetap menjadi cita-cita saya. Seandainya saya dapat mengecil sehingga saya bisa masuk ke sampul surat, saya akan turut serta mengunjungi kamu, Stella....

Surat Kartini: Kepada Stella tentang Islam #4

  • Read: 504

Kepada STELLA:
Akan agama Islam, Stella, tiada boleh kuceritakan. Agama Islam melarang umatnya mempercakapkannya dengan umat agama lain. Lagipula, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya?

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H. Zeehandelaar #3

  • Read: 247

6 November 1899

Saya tidak akan, sekali-kali tidak akan dapat jatuh cinta. Untuk mencintai seseorang menurut pendapat saya harus ada rasa hormat dulu. Dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa. Bagaimana saya dapat menghormati seseorang yang sudah kawin dan sudah menjadi bapak, yang apabila sudah bosan kepada ibu anak-anaknya, dapat membawa perempuan lain ke dalam rumahnya dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam.

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H Zeehandelaar #2

  • Read: 554

18 Agustus 1899

Apakah saya seorang anak raja? Bukan. Raja terakhir dalam keluarga kami, yang langsung menurunkan kami menurut garis keturunan laki-laki, saya kira sudah berlalu 25 keturunan jauhnya. Ibu masih bersaudara dekat dengan keluarga raja Madura. Moyangnya raja yang bertahta dan neneknya ratu mahkota.

Surat Kartini: Kepada Estella H. Zeehandelaar #1

  • Read: 383

Jepara, 25 Mei 1899

Saya ingin sekali berkenalan dengan "gadis modern", yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat dan keasyikan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama manusia.

Subscribe to this RSS feed