Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon-Mandri #8

  • Read: 290

1 November 1900

Kabar baik!

Saya boleh! Saya boleh! Saya boleh! Ucapkan selamat kepada saya! Berilah saya tempat dalam angan-angan kalbu nyonya dan bacalah kebahagiaan saya dalam mata yang berbinar-binar! Nyonya tercinta, saya boleh belajar menjadi guru!

Surat Kartini: Kepada Nyonya RM Abendanon-Mandri #7

  • Read: 791

7 Oktober 1900

Saya menunggu waktu saya dengan tenang. Kalau waktu itu tiba, maka orang akan melihat bahwa saya bukan benda mati, tetapi manusia. Dengan kepala dan hati yang dapat berpikir dan merasa.

Surat Kartini: Kepada Nona Estela H. Zeehandelaar #5

  • Read: 427

12 Januari 1900

Pergi ke Eropa! Samapi napas yang penghabisan hal itu akan tetap menjadi cita-cita saya. Seandainya saya dapat mengecil sehingga saya bisa masuk ke sampul surat, saya akan turut serta mengunjungi kamu, Stella....

Surat Kartini: Kepada Stella tentang Islam #4

  • Read: 559

Kepada STELLA:
Akan agama Islam, Stella, tiada boleh kuceritakan. Agama Islam melarang umatnya mempercakapkannya dengan umat agama lain. Lagipula, sebenarnya agamaku agama Islam, hanya karena nenek moyangku beragama Islam. Manakah boleh aku cinta akan agamaku, kalau aku tiada kenal, tiada boleh aku mengenalnya?

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H. Zeehandelaar #3

  • Read: 279

6 November 1899

Saya tidak akan, sekali-kali tidak akan dapat jatuh cinta. Untuk mencintai seseorang menurut pendapat saya harus ada rasa hormat dulu. Dan saya tidak dapat menghormati pemuda Jawa. Bagaimana saya dapat menghormati seseorang yang sudah kawin dan sudah menjadi bapak, yang apabila sudah bosan kepada ibu anak-anaknya, dapat membawa perempuan lain ke dalam rumahnya dan mengawininya secara sah sesuai dengan hukum Islam.

Surat Kartini: Kepada Nona Estella H Zeehandelaar #2

  • Read: 579

18 Agustus 1899

Apakah saya seorang anak raja? Bukan. Raja terakhir dalam keluarga kami, yang langsung menurunkan kami menurut garis keturunan laki-laki, saya kira sudah berlalu 25 keturunan jauhnya. Ibu masih bersaudara dekat dengan keluarga raja Madura. Moyangnya raja yang bertahta dan neneknya ratu mahkota.

Surat Kartini: Kepada Estella H. Zeehandelaar #1

  • Read: 415

Jepara, 25 Mei 1899

Saya ingin sekali berkenalan dengan "gadis modern", yang berani, yang dapat berdiri sendiri, yang menarik hati saya sepenuhnya, yang menempuh jalan hidupnya dengan langkah cepat, tegap, riang dan gembira, penuh semangat dan keasyikan. Gadis yang selalu bekerja tidak hanya untuk kepentingan dan kebahagiaan dirinya sendiri saja, tapi juga berjuang untuk masyarakat luas, bekerja demi kebahagiaan sesama manusia.

Subscribe to this RSS feed