Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya van Kol #17

Surat Kartini: Kepada Nyonya van Kol #17

20 Agustus 1902

Senang sekali! Berkat usaha dan kerja nyonya dan beberapa orang lainnya yang tak mengenal jerih payah, maka terbukalah mata negeri Belanda Raya untuk hal yang penting dalam pendidikan: yakni bacaan anak-anak.

Dalam hal ini tentu lebih beruntunglah anak Belanda jika dibandingkan dengan anak Jawa yang tidak mempunyai buku satu pun kecuali buku pelajaran sekolah.

Hari-hari ini kami berperang mulut dengan hangat mengenai pengaruh buku. Lawan kami menganggap semua buku tak berarti dan tak berguna; cita-cita, puisi adalah pekerjaan orang gila; buku itu nol, sama sekali tak berharga.
Betapa terharunya kami, waktu pagi harinya membuka Majalah Amsderdammer, membaca karangan nyonya yang bagus tentang pengaruh buku.

Kami orang awam, tak berharga, pendapat kami nol. Tapi sekarang seorang ahli bicara.

Ingatkah nyonya nyonya akan malam tropik yang sejuk dan terang, ketika semuanya sedang istirahat, dan ketenangan tidak diganggu oleh apapun kecuali desir desau angin di puncak pohon nyiur, ektika angin malam dengan napasnya mengantarkan kepada nyonya bau kemuning, cempaka dan melati yang lembut dan harum?
Semua buku kami ditulis dalam sanjak dan cara membacanya dengan dinyanyikan.

Waktu yang paling nikmat ketika melepaskan lelah setelah seharian bekerja, orang Jawa mencari hiburan dalam nyanyian. Melupakan semua kesukaran hidupnya, meresapi sepenuhnya kehidupan masa silam yang indah yang dinyanyikannya. Nyanyian itulah yang mengantarkan jiwanya kepada masa lampau yang gemilang.

"Bangsa Jawa merupakan bangsa yang suka mengenangkan masa silam," kata seorang sahabat kami tepat sekali. "Alangkah indahnya jiwa yang bermimpi di tengah tidur yang berabad abad lamanya itu."

Bermimpi memang menyenangkan. Tapi, apa gunanya bila mimpi itu hanya tinggal mimpi? Mimpi haruslah dibuat lebih indah, lebih nikmat dengan mengusahakan mewujudkannya.

Saya teringat pada kata-kata nyonya, 'untuk mencapai cita-cita, banyak angan-angan harus dilepaskan.'
Dari kematian bunga musim semi yang baru, tumbuhlah banyak buah; demikian pula dalam hidup manusia, bukan? --karena ada angan-angan mati muda, akdang-kadang bisa timbul angan-angan lain, yang lebih baik, yang dapat menghasilkan buah....

Cita-cita besar telah kami lepaskan. Kami tahu dan kami sadari: demikian banyak, dan banyak lagi air mata serta darah luka hati yang harus dan akan tercurah mengairi buah muda itu supaya menjadi lebih besar.

Terlintas dalam ingatan saya suatu malam yang belum lama berselang. Di Semarang kami berdua dibawa kenalan kami ke konser di gedung kumidi. Baru pertama kali itulah sepanjang hidup kami, bahwa kami berdua, tanpa adik tanpa ayah tanpa ibu berada di tengah-tengah lautan manusia yang luas.

Kami hanya berdua, benar-benar menyendiri di tengah orang-orang yang sama sekali tidak kami kenal. Dan tiba-tiba kami berpikir, demikian pula hidup kami yang akan datang! Kami hanya berdua di lautan hidup yang luas. Tetapi kami tenang. Ada Tuhan yang mengawasi kami!

back to top