Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon - Mandri -MenjelangWafat #21

Surat Kartini: Kepada Nyonya Abendanon - Mandri -MenjelangWafat #21

Rembang, 7 September 1904

Ibuku yang tercinta,

Entah bagaimana harus saya ucapkan terimakasih atas baju bagus yang ibu hadiahkan kepada anak kami. Hadiah tersebut terlebih-lebih lagi saya hargai karena kami tahu, dalam keadaan yang bagaimana ibu mengerjakan hadiah itu kepada cucu ibu.

 

Dari Roekmini kami tahu, bahwa sejak kembali dari Betawi keadaan kesehatan ibu tidak baik. Mengingat bahwa ibu sendiri kurang sehat, banyak sekali yang ibu pikirkan, dan seperti biasanya selalu sibuk sekali, masih ada waktu tersisa untuk memikirkan hadiah bagi anak kami. Dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur dan bahagia baju itu kemarin saya amat-amati, dan berulang kali lagi saya melihatnya!

Anak kami belum lahir, tetapi setiap saat bisa lahir. Saya merasa dia akan segera datang.

Orang-orang yang melihat saya hari-hari terakhir ini mengatakan, saya luar biasa riang gembira.

Saya sudah rindu benar menanti tangkai hati saya yang kecil itu. Sungguh senang mengetahui bahwa sekian banyak orang hari-hari terakhir ini turut merasai hidup saya.

Sekian banyaknya hati memanjatkan doa yang sama, maka Tuhan tidak akan diam, Ibu...saya sungguh-sungguh yakin bahwa anak Ibu akan selamat. Tentu saja ibu akan mendapat kabar segera bila peristiwa besar itu telah tiba.

Ibu saya sudah sejak dua minggu di sini. Dan seorang lagi nenek yang tua untuk mendampingi saya pada saat-saat sukar nanti.
Di sini saya dirawat, dimanjakan dan dijaga seperti seorang puteri.

Keranjang popok, tempat tidur, semuanya siap di kamar kami menunggu kedatangan buah hati kami.

Dan Ibu sendiri, apa kabar, calon nenek? Bagaimana dengan tuan? Sungguh-sungguh saya berdoa, semoga ibu dengan tuan dalam keadaan sehat menerima surat ini.

Apa kabar dengan Eddie? Apakah dia masih di negeri Cina? Dengan seksama daya baca karangannya di di majalah bulanan Elseviers.

Alangkah pandainya anak itu menulis! Kak Eddie, masih ingatkan kiranya dia kepada saya? Kalau ibu menyuratinya sampaikan salam mesra Dik Kartini; ceritakan tentang kebahagiaan saya yang indah.

Saya simpan baju hadiah dari ibu dalam peti bersama-sama baju-baju kecil lainnya, agar pakaian ini berbau harum. Alangkah harumnya bau jantung hati saya kelak!

 

Surat ini merupakan surat Kartini yang terakhir. Tak berapa lama, 13 September 1904 anak laki-lakinya lahir. Dan 4 hari kemudian Kartini wafat.

 

back to top