Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Surat Kartini: Kepada Estella Zeehandelaar #19

Surat Kartini: Kepada Estella Zeehandelaar #19

25 April 1903

Pengecut, tidak dapat dimaafkan. Kami tidak segera berkirim surat kepadamu ketika ditetapkan putusan penting bahwa untuk sementara ini kami tidak akan mengecap buah semua usahamu yang luhur itu....Semuanya telah kami duga-duga akan terjadi. Tapi, sekali-kali tidak kami sangka-sangka bahwa dengan kemauan sendiri akan kami katakan, "Kami tidak akan pergi!"

Jangan memikirkan kami. Pikirkan perkaranya, dan apa yang sebaik-baiknya bagi perkara itu. Sekarang kita lihat kenyataan lain: "Untuk perkaranya pada saat ini, tetap tinggal di Hindia lebih baik!"

Kami sekarang bukan milik kami sendiri. Kami milik perkara. Pada waktu ini, cara mengabdi yang sebaik-baiknya kepada perkara itu ialah dengan tidak meninggalkan negeri. Orang banyak yang hendak kami tolong itu harus belajar mengenal kami dulu. Apabila kami sekarang pergi, maka kami akan menjadi asing bagi mereka. Dan kalau beberapa tahun lagi kami kembali, kami akan dipandang sebagai perempuan Eropa.

Dan kalau orang tidak mau mempercayakan anak-anak perempuannya kepada orang-orang Eropa, akan lebih tidak mau lagi mereka berbuat demikian kepada seseorang, yang dipandangnya sebagai perempuan Jawa, tetapi bertabiat seperti perempuan Eropa.

Yang menjadi sasarannya bangsa kami. Kalau bangsa ini menjadi benci kepada kami, apa faedahnya pertolongan pemerintah bagi kami? Soalnya sekarang, secepat-cepatnya mulai bekerja, menghadapkan umum kepada kenyataan, bahwa sekolah untuk anak-anak perempuan Bumiputera telah ada! Pada waktu ini kami diperhatikan orang, kami terkenal di seluruh wilayah pulau Jawa; kami harus mempertahankan semangatnya.

Apabila kami pergi dan lama pula, perhatian itu makin lama akan makin berkurang dan akhirnya lenyap. Sekarang kami wajib memperkenalkan diri secara pribadi kepada bangsa kami, berusaha memperoleh simpatinya dan mengajar mereka menaruh kepercayaan kepada kami. Jika simpati dan kepercayaan itu sudah kami peroleh, maka kami bisa saja pergi. Soal ke Belanda itu tidak seluruhnya batal, Stella. kami masih selalu bisa pergi. Dan kalau kami pergi, berangkat dari Betawi akan lebih baik daripada dari sini.

Sabar, seru orang budiman. Kami mendengar seruan itu, tetapi kami tidak mengerti. Baru sekarang kami mengerti, Stella. Sekarang tahulah kami akan makna semboyan semua orang pembaharu masyarakat, yaitu sabar. Perjalanan dunia tidak dapat dipercepat. Dengan bekerja terburu nafsu bahkan menjadi lambat.

Kami harus mengendalikan hati kami. Tidak, Stella, usahamu tak sia-sia. Atas nama bangsa kami saya ucapkan terimakasih yang sedalam-dalamnya. Bagi orang Jawalah segala jerih payahmu akan bermanfaat.

Rencana kami, setelah ada balasan surat permohonan kami, kami akan segera pergi ke Betawi. Roekmini akan belajar menggambar, pekerjaan tangan, ilmu kesehatan, ilmu penyakit dan ilmu balut-membalut. Saya hendak belajar jadi guru; hanya satu ijazah saja yang hendak saya capai. Setelah mendapat ijazah itu, sekolah kami buka.

Di Magelang atau Salatiga, dua-duanya berhawa sejuk dan banyak dokter militer. Rencana kami demikian besar; kalau sekolah itu sudah ada dan semuanya berjalan baik, di sekolah itu akan kami buka kursus untuk mendidik dokter-dokter perempuan, juru rawat dan bidan beranak. Yang akan mengajar dokter-dokter militer itu, dengan pimpinan kursus Roekmini.

back to top