Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Menembus Paywall Jurnal untuk Open Access Ilmu Pengetahuan

New Picture

Oleh: Arif Nur Muhammad Ansori

Mahasiswa adalah tombak utama dalam kemajuan bangsa, terutama terkait hal yang berhubungan dengan penguasaan sains dan teknologi. Kendalanya, mahasiswa yang berada di negara berkembang, tentunya dihadapkan oleh sulitnya akses terhadap jurnal-jurnal ilmiah bereputasi tinggi, hal tersebut adalah sebuah kenyataan yang tak terbantahkan.

Indonesia memiliki banyak jumlah perguruan tinggi, dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN) hingga Perguruan Tinggi Swasta (PTS).

Berdasarkan data dari Kementerian Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Kemristekdikti) pada tahun 2017, total perguruan tinggi di Indonesia berjumlah sekitar 4500 unit. Namun, Anggaran untuk penelitian dan pengembangan di Indonesia masih sangat minim, tidak lebih dari 1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah Indonesia masih memiliki banyak tugas untuk memperbaiki sektor pendidikan tingginya dan menciptakan iklim pendidikan tinggi yang berkualitas, termasuk menyediakan akses terhadap jurnal-jurnal ilmiah bereputasi secara legal.

Kenyataannya, perguruan tinggi negeri maupun swasta yang sudah besar sebenarnya telah memiliki akses dengan membayar biaya tahunan untuk melanggan jurnal ilmiah padapublisher bereputasi seperti Elsevier, Springer Nature, Wiley-Blackwell, dan yang lainnya, itupun terkadang masih banyak jurnal yang tidak bisa terakses.

Implikasinya, Indonesia masuk dalam daftar 10 besar negara pengakses jurnal ilmiah bereputasi berdasarkan dataset dari Sci-Hub (September 2015-Februari 2016).

Menembus Paywall

Bulan lalu, sebuah artikel terbit di Science Magazine dengan judul “Court demands that search engines and internet service providers block Sci-Hub” yang ditulis oleh Lindsay McKenzie.

Pengadilan di Virginia (Amerika Serikat) memutuskan bahwa Sci-Hub harus membayar ganti rugi senilai US$ 4,8 juta setelah pengadilan mengabulkan tuntutan American Chemical Society (ACS) atas tuduhan pelanggaran hak cipta dan perwakilan Sci-Hub gagal menghadiri pengadilan.

Efek dari hal itu adalah Sci-Hub kehilangan portal-portal utamanya, meskipun saat ini portal Sci-Hub yang baru tetap terbentuk kembali. Disisi lain, pada tahun 2015, Elsevier juga telah memenangkan gugatan senilai US$ 15 juta terhadap Sci-Hub.

Sci-Hub adalah situs yang melakukan bypass terhadap paywall dari jurnal-jurnal ilmiah bereputasi sehingga kita bisa mengakses jurnal ilmiah dengan gratis. Pada tahun 2017, pengguna Sci-Hub mengunduh lebih dari 150 juta paper.

Data dirilis oleh Sci-Hub mencakup 329 hari pada tahun 2017 dan menunjukkan bahwa popularitas situs semakin berkembang, terlepas dari keputusan pengadilan dan upaya untuk membatasi akses. Sebuah rilis data sebelumnya yang mencakup 6 bulan pada tahun 2015-16.

(Arif Nur Muhammad Ansori adalah peneliti di Professor Nidom Foundation, sedang menempuh pendidikan jenjang magister di Universitas Airlangga, Surabaya)

back to top