Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

"Jangan pandang sebelah mata gadis ini..."

Surabaya-KoPi| Uswatun Hasanah adalah gadis yang menjadi perhatian. Dia tumbuh dalam keterbatasan tubuh. Akan tetapi, Uswatun mampu melewati keterbatasan tubuhnya untuk belajar keras mencapai mimpi-mimpinya. 

Uswatun Hasanah memiliki keteguhan. Bayangkan saja, gadis ini tidak memiliki kaki dan tangan yang sempurna akan tetapi dia tidak merendahkan harga dirinya dari belas kasihan. Dia bangkit, menempa diri dengan ilmu-ilmu yang kini sedang ia geluti. Uswatun tercatat sebagai mahasiswi semester tiga di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya.

Kekuatan batin, mental, itu yang menjadi perhatian Fatma Saifullah Yusuf (FSY) sebagai Ketua Umum BKOW (Badan Koordinasi Organisasi Wanita) Provinsi Jawa Timur. 

"Uswatun menjadi inspirasi bagi masyarakat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk diam, lemah dan menyerah. Gadis itu menantang kita untuk terus bekerja keras."

Ungkap FSY ketika ditemui di Kantor BKOW Jawa Timur beberapa waktu lalu. FSY mengundang Uswatun Hasanah sebagai bagian dari misi BKOW untuk memberdayakan para wanita. BKOW Jawa Timur memberikan bantuan kaki palsu kepada Uswatun Hasanah agar makin lancar dalam proses belajar dan kerja kerasnya.

"Uswatun Hasanah diundang ke BKOW Jawa Timur untuk diskusi dan sekaligus mengukur kaki palsu untuknya."

FSY dan BKOW Jawa Timur sangat mendukung kerja keras Uswatun Hasanah. 

"Semoga dia menjadi inspirasi bagi kita semua untuk selalu bekerja keras, pantang menyerah dalam keterbatasan yang ada dalam masing-masing individu," pungkas FSY kepada KoPi. |AG|

Read more...

Teknologi dari Tuhan yang tidak tertandingi

"Jangan menunggu terlalu lama terpisah. Sebab fase persentuhan dibutuhkan untuk merajut sistem syaraf ‘cinta’ antara ibu dan cinta mungil"


oleh: dr. Dini Adityarini, Sp.A


Dulu selama awal menjalani sebagai dokter, aku selalu bertanya tentang satu hal. Apakah proses merawat dan menyembuhkan kesehatan hanya ditentukan oleh prosedur medis yang ketat? Ya, prosedur medis ketat adalah faktor fundamental. Akan tetapi prosedur-prosedur itu benarkah telah sempurna? 

Tanya itu makin berpusar di ruang hati ketika menjadi dokter spesialis anak. Seorang ibu melahirkan melalui proses sectio caesar dan bayinya harus dibawa terpisah di ruang perawatan intensif NICU ( Neonausl Intensive Care Unit), misalnya, secara prosedur medis ketat harus terpisah dari cinta mungil. Pengalamanku menangani ini, entah berapa kali sejak tahun 2006, prosedur medis ketat menciptakan fenomena pada ibu dan cinta mungil.

Fenomena itu muncul dalam bentuk kondisi psikologis, emosional, dan perilaku. Ibu yang terpisah dari cinta mungilnya cenderung kehilagan kepercayaan diri untuk ‘menyentuh’ buah hatinya. Pada cinta-cinta mungil, ada gerak atau gesture yang kurang cepat merespon.

Fenomena itulah yang mendorongku sering berbeda dalam penanganan paska ibu melahirkan di ruang NICU. Aku berusaha langsung mendekatkan cinta mungil yang baru saja terlahir pada sang ibu. Membantu keduanya dalam persentuhan pertama setelah kelahiran.

Beberapa kulakukan, dan yang kusaksikan sungguh menakjubkan. Wajah ibu memperlihatkan cahaya kerinduan, sama halnya cinta mungil yang langsung terhubung kembali. Seolah dua kekasih yang terpisah ribuan tahun. Bahasa prosedur medis modern yang ketat mungkin tidak akan menjangkaunya, sebab prosedur bisa saja mengabaikan kekuatan sentuhan.

Sentuhan tidaklah proses biologis semata. Ini mungkin kunci dari Allah bagaimana ruh cinta mengalami proses perajutan sangat mendasar. Perajutan cinta itu menghidupkan sistem syaraf yang bahasanya tidak tertangkap oleh mikroskop. Sistem yang mungkin menentukan salah satunya bagaimana ASI bisa diproduksi secara lancar dan tersalur pada cinta mungil tanpa halangan.

Proses persentuhan ini sesungguhnya, kuyakini, merupakan narasi ultra-ilmiah dari Tuhan. Tujuannya agar ASI bisa terserap. Bagiku ini merupakan alasan paling penting mengapa Tuhan menciptakan proses persentuhan cinta. Alasan itu adalah ASI merupakan jawaban paling ilmiah dari sisi apapun.

Suatu ketika akhir tahun 2015, aku mengikuti konferensi internasional dan workshop untuk para dokter anak dan obgyn bertajuk  Kongres JENS (Joint European Neonatology Soceity) di Budapest. Para pakar dan dokter Eropa hadir di sana.

Sungguh, Allah menjawab pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Pakar kesehatan anak itu bernama Richard Kuhn dan Paul Gyorgy. Mereka menemukan hal penting dari pertanyaanku, bahwa ASI mengandung zat yang dinamakan "Bifidus factor" atau "Gynolacyosa" atau "Human Milk Oligosaccharides (HMO)".

HMO hanya ada dalam ASI.  Sebab konsentrasi oligosakarida pada susu sapi (yang dipakai sebagai dasar susu formula), kambing, domba dan babi hanya seperseribu dari kadar di ASI. HMO mempunyai fungsi-fungsi terlampau penting untuk diabaikan.

Dokter Lars Bode seorang dokter anak neonatologi dan juga ahli gastroenterologi menyebutnya sebagai POSTULAT HMO Effect. Ada 5 fungsi utama dari postulat itu*:


1. HMO sebagai prebiotik. Ini akan menumbuhkan bakteri baik (bifidobacterium) dalam usus bayi sehingga bakteri patogen tertekan pertumbuhannya.

2.HMO sebagai antiadhesive antimicrobial yang akan mencegah perlekatan mikroba pathogen.

3.HMO secara langsung mempengaruhi sel2 epitel usus sebagai modulator cell response.

4.HMO sebagai Imunomodulator yang akan mencegah bayi dari reaksi alergi (menyeimbangkan fungsi Th1 dan Th2).

5.HMO melindungi bayi bayi prematur dari kerusakan epitel usus (Necrotizing Enterocolitis)

6. HMO mengandung Sia (Sialic Acid) yang merupakan nutrisi penting untuk perkembangan otak.

Susu formula tidak bisa menyediakan HMO seperti yang terdapat dalam ASI. FOS (Fructooligosaccharides) dan GOS (Galactooligosaccharides) yang ditambahkan pada susu formula mempunyai struktur kimia yang sama sekali berbeda dengan HMO.

Nah, tantangan selanjutnya tidak hanya pada dimensi mengapa ASI menjadi alasan paling penting bagi pertumbuhan bayi. Tantangan selanjutnya adalah bagaimana para ibu dan ayah memilih ASI daripada susu formula. Kunci itu adalah persentuhan awal antara ibu dan cinta mungil. Jangan menunggu terlalu lama terpisah. Sebab fase persentuhan dibutuhkan untuk merajut sistem syaraf ‘cinta’ antara ibu dan cinta mungil.

*) Disadur dari Review yang ditulis oleh Lars Bode, Human Milk Oligosaccharides :Every Baby needs a sugar mama, Glycobiology vol 22 April 2012)

Read more...

Sepakbola dalam mental kekerasan suporter

Berikut adalah hasil diskusi KoPi dengan pakar konflik dan kekerasan dari Universitas Airlangga, Novri Susan. Laporan diskusi disajikan sebagai artikel di Antitesis oleh Ranang Aji SP. Selamat menyimak.

Sepakbola bukan sekedar olahraga namun realitas sosial. Sedangkan realitas sosial merupakan definisi tentang gambaran-gambaran keseharian, tentang benar dan salah, atau baik dan buruk. Realitas selalu dikonstruksi, atau diciptakan, oleh konteks sosial para aktor.

Seperti halnya sepakbola sebagai realitas sosial merupakan definisi para aktor dalam konteks sosial tertentu tentang gambaran-gambaran hidup.

Akar pengetahuan

Suporter adalah para aktor yang menciptakan realitas sepakbola. Sumber dari penciptaan realitas adalah akar pengetahuan yang disusun oleh berbagai aliran pengalaman terkait sepakbola dan pengalaman-pengalaman lain yang dianggap relevan bagi realitas sepakbola.

Sedangkan aliran pengalaman bisa berbentuk peristiwa langsung dari para aktor dalam kejadian-kejadian sosial seperti perkelahian atau kerjasama. Selain itu aliran pengalaman bisa berbentuk proses sosialisasi aktor penting terhadap aktor-aktor lain.

Menurut Novri Susan akar pengetahuan bisa terlacak melalui bahasa-bahasa keseharian baik dalam aksi (interaksi), komunikasi langsung sehari-hari secara verbal, dan teks-teks dalam pamflet, baliho atau media sosial.

"Bahasa merepresentasikan akar pengetahuan yang digunakan untuk memperkuat realitas kelompok, sekaligus sebagai alat berinteraksi dengan aktor-aktor lain di luar kelompoknya. Bahasa menjadi tanda telah disepakatinya bentuk pengetahuan." (Novri Susan, wawancara, 19 Desember 2015).

Bahasa dengan kata lain adalah proses dari konstruksi sosial atas kenyataan. Sepakbola menjadi realitas sosial para suporter melalui bahasa-bahasa yang telah disepakati sebagai representasi akar pengetahuan.

Setiap kelompok suporter menggunakan bahasa masing-masing sehingga menciptakan realitas yang membedakan dengan kelompok lain (optimal distinctiveness). Pada level ini bahasa secara sukses menciptakan keidentitasan kolektif kelompok-kelompok suporter.

Keidentitasan-keidentitasan kolektif, para suporter, bertemu di arena-arena interaksi, baik langsung ketika pertandingan sepakbola dan tidak langsung melalui berbagai media sosial. Pertemuan keidentitasan kolektif menciptakan konsekuensi tertentu sesuai isi dari konstruksi sepakbola sebagai realitas.

Sepakbola berdasar pada pembacaan kasus-kasus nasional, merupakan realitas tentang gambaran harga diri, kehormatan, dan sekaligus keidentitasan kolektif. Oleh karenanya, pertandingan sepakbola adalah pertandingan harga diri, kehormatan dan 'pertermpuran' dari para identitas kolektif.

Pada garis historis masyarakat manusia harga diri, kehormatan dan keidentitasan kolektif merupakan garis pertempuran demi eksistensi atau keberlangsungan sosial. Maka tidak bisa dihindarkan, para supoter melihat atau meyakini sepakbola sebagai realitas pertempuran demi keberlangsungan sosial. Sedangkan pertempuran secara etimologi berarti pertarungan besar dua kelompok atau lebih yang di dalamnya adalah praktik-praktik kekerasan.

Mental kekerasan

Sepakbola menjadi realitas pertempuran bagi para suporter yang praktik kekerasan direproduksi. Kekerasan secara bahasa seperti stigma, ejekan, atau pelecehan, serta kekerasan fisik yang merusak, melukai dan membunuh. Kasus praktik kekerasan pada laga sepakbola antara Surabaya United melawan Arema Cronus pada Piala Sudirman (19/12/15). Dua suporter Aremania meninggal dunia setelah dikeroyok suporter dari Crocodile United pendukung Surabaya United (bukan Bonek). 

Pengeroyokan, penganiayaan, dan perusakan mobil angkut suporter Aremania merupakan konsekuensi dari akar pengetahuan yang mendefinisikan sepakbola sebagai realitas pertempuran. Apakah suporter Aremania memiliki kemungkinan mereproduksi kekerasan yang sama?

Tentu saja, sebab suporter Aremania juga memiliki akar pengetahuan sepakbola sebagai realitas pertempuran. Kedua suporter memiliki akar pengetahuan yang ketika pertandingan sepakbola berlangsung, atau bahkan usai, berarti proses pertempuran sedang berlangsung.

Realitas sepakbola sebagai pertempuran memiliki kemungkinan terus dipelihara dan disosialisasikan di antara para anggota suporter. Oleh karenanya praktik-praktik kekerasan suporter akan menjadi bagian dari sepakbola.

"Kekerasan para suporter dengan akar pengetahuannya dilegitmasi sebagai pembelaan kehormatan, harga diri, dan keidentitasan kolektif. Maka sesungguhnya sepakbola berada dalam mental kekerasan." (Novri Susan, wawancara, 18 Desember 2015).

Mental kekerasan selalu terbangun dari akar pengetahuan. Jika akar pengetahuan para suporter tentang sepakbola sebagai pertempuran, kemungkinan reproduksi kekerasan tidak kecil. Pada kondisi kuatnya mental kekerasan pada kolektif para suporter, sepakbola sebenarnya berkontribusi terhadap masalah-masalah sosial termasuk kriminalitas.

Lantas bagaimana jika mental kekerasan merupakan bagian dari kehidupan para suporter? Salah satu upaya fundamental bukanlah sanksi melalui hukum kriminal, walaupun tetap bisa dilakukan. Akan tetapi upaya fundamental tersebut adalah proses mengisi ruang-ruang publik, termasuk media, dengan realitas-realitas nirkekerasan tentang sepakbola. Negara dan masyarakat sipil bertanggung jawab terhadap upaya ini. 

Read more...

Rusaknya alam akibat tambang pasir di Magelang

Sebelum Gunung Merapi meletus 2010, wilayah Wonolelo Kabupaten Magelang adalah daerah yang indah. Daerah ini juga menjadi wilayah resapan air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat baik di hulu maupun hilir. Sungai Pabelan juga mengalir lancar termasuk memberikan keindahan tempat wisata Kedung Kayang. Namun, saat ini-kehancuran telah di depan mata akibat tambang pasir yang tak terkendali.

Read more...
Subscribe to this RSS feed