Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Sosiolog: Indonesia, krisis tepo sliro!

Sosiolog: Indonesia, krisis tepo sliro!

Surabaya-KoPi. Fenomena perilaku menyulut mercon dan sampah berserakan ketika hari Idhul Fitri merupakan tanda dari krisis tepo sliro. Demikian Doktor Tuti Budirahayu, sosiolog pakar perilaku menyimpang dari Unviersitas Airlangga menjelaskan kepada KoPi hari ini (31/7/14).

Menurut Tuti, alasan permainan mercon di kalangan pemuda, bahkan orang tua, adalah kesenangan dan kepuasan sendiri di ruang milik publik. Mereka puas mendengar suara letusan keras. Tidak sedikit para pelaku merasa puas ketika ledakan mercon memberi efek takut pada orang lain. Seperti Kodar mengatakan kepada KoPi (29/7/14).

"Senang dan puas jika suaranya keras. Apalagi bisa bikin kaget. Kita sering juga menganggap suara mercon dari lokasi lain sebagai tantangan hehe..."

Nilai sosial tepo sliro menurut Doktor Tuti Budirahayu adalah pengetahuan yang kuat tentang cara bertoleransi pada orang lain di ruang publik. Para individu anggota masyarakat tidak akan menggunakan ruang publik sebagai media mengintimidasi dan memuaskan kepentingan diri sendiri.

"Jika nilai tepo sliro tertanam kuat maka ruang publik akan nyaman. Perilaku menyulut mercon yang menyebabkan ketakutan orang lain, sampah berserakan, dan ketidaknyamanan sosial."

Menurut doktor sosiologi yang sering memberi pelatihan tentang isu-isu pemuda ini, sistem pendidikan dan peranan pemimpin harus dikuatkan dalam penanaman nilai tepo sliro kedalam masyarakat.*

 

Reporter: Winda Nur

back to top