Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Sosiolog: Indonesia, krisis tepo sliro!

Sosiolog: Indonesia, krisis tepo sliro!

Surabaya-KoPi. Fenomena perilaku menyulut mercon dan sampah berserakan ketika hari Idhul Fitri merupakan tanda dari krisis tepo sliro. Demikian Doktor Tuti Budirahayu, sosiolog pakar perilaku menyimpang dari Unviersitas Airlangga menjelaskan kepada KoPi hari ini (31/7/14).

Menurut Tuti, alasan permainan mercon di kalangan pemuda, bahkan orang tua, adalah kesenangan dan kepuasan sendiri di ruang milik publik. Mereka puas mendengar suara letusan keras. Tidak sedikit para pelaku merasa puas ketika ledakan mercon memberi efek takut pada orang lain. Seperti Kodar mengatakan kepada KoPi (29/7/14).

"Senang dan puas jika suaranya keras. Apalagi bisa bikin kaget. Kita sering juga menganggap suara mercon dari lokasi lain sebagai tantangan hehe..."

Nilai sosial tepo sliro menurut Doktor Tuti Budirahayu adalah pengetahuan yang kuat tentang cara bertoleransi pada orang lain di ruang publik. Para individu anggota masyarakat tidak akan menggunakan ruang publik sebagai media mengintimidasi dan memuaskan kepentingan diri sendiri.

"Jika nilai tepo sliro tertanam kuat maka ruang publik akan nyaman. Perilaku menyulut mercon yang menyebabkan ketakutan orang lain, sampah berserakan, dan ketidaknyamanan sosial."

Menurut doktor sosiologi yang sering memberi pelatihan tentang isu-isu pemuda ini, sistem pendidikan dan peranan pemimpin harus dikuatkan dalam penanaman nilai tepo sliro kedalam masyarakat.*

 

Reporter: Winda Nur

back to top