Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Singkong dan ubi yang kembali naik pangkat

Singkong dan ubi yang kembali naik pangkat
Surabaya – KoPi | Anjuran menghidangkan makanan tradisional Indonesia dalam rapat-rapat instansi disebut sebagai salah satu upaya menuju ketahanan pangan nasional. Makanan-makanan tradisional seperti ubi rebus, singkong rebus, pisang rebus, kini naik pangkat dan disajikan di hotel-hotel.
 

Ahli gizi Prof. Bambang Wirjatmadi mengatakan dari dulu sebenarnya masyarakat Indonesia tidak hanya makan beras. Makanan tradisional Indonesia sebetulnya lebih beragam, misalnya ubi, singkong, talas, jagung, sagu, dan lain-lain. “Tapi karena dulu pada masa Orde Baru ada anjuran untuk makan beras, orang Indonesia semuanya mulai beralih makan dengan alasan prestise. Tidak makan beras dianggap miskin. Akhirnya, orang Indonesia jadi melupakan makanan-makanan tersebut,” ungkapnya.

Padahal dari segi kandungan gizi makanan-makanan alternatif tersebut sama dengan beras. “Memang, dibandingkan beras, makanan seperti jagung, singkong, dan ubi memang kekurangan beberapa sumber gizi. Tapi hal itu bisa dilengkapi dengan makanan tambahan,” jelas Bambang.

Misalnya, ketela pohon punya karbohidrat tinggi, sama seperti beras. Kandungan lemaknya juga rendah. Namun kandungan protein ketela pohon kurang dibandingkan beras. “Karena itu singkong sebaiknya dimakan bersama makanan lain seperti kacang-kacangan,” saran Bambang.

Konsumsi makanan seharusnya tergantung pada wilayah. Tidak mungkin memaksa mereka makan makanan tidak bisa diperoleh di tempat mereka. Seharusnya para policy maker menganjurkan makanan tambahan apa yang perlu dikonsumsi bersama makanan-makanan tersebut, bukan memaksa makan makanan yang bukan tradisi mereka.

"Jangan anggap daerah yang masyarakatnya tidak makan beras sebagai daerah yang miskin. Buktinya warga di daerah Selatan Pulau Jawa setiap hari makan singkong baik-baik saja. Banyak juga dari mereka yang sekolah tinggi, kuliah. Masyarakat Papua juga makan ubi dan sagu, tapi mereka kan tidak makan itu saja. Mereka juga biasa menambahkan ikan bakar," ujar Bambang.

back to top