Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Rokok elektronik bukan solusi berhenti merokok

Rokok elektronik bukan solusi berhenti merokok
Surabaya – KoPi | Kementerian Perdagangan berencana membatasi impor rokok elektronik pada tahun 2015 ini. Meski demikian rokok elektronik ini masih populer dikalangan perokok Indonesia. Rokok jenis ini diklaim bebas polusi dan tidak berbau karena mengeluarkan uap, bukan asap. Bagi beberapa pengguna, rokok elektronik disinyalir dapat membantu mengurangi konsumsi terhadap rokok.

Namun kenyataannya beberapa pengguna rokok elektronik mengaku malah semakin giat menggunakan rokok jenis ini. Walau awalnya mereka berniat menggunakan rokok elektronik untuk meninggalkan rokok tembakau, mereka justru malah ketergantungan dengan rokok elektronik.

Adit, salah seorang mahasiswa pengguna rokok elektronik mengatakan, ia menggunakan rokok jenis ini untuk mengurangi kebiasaan merokok. Namun ia justru tak bisa berhenti menggunakan rokok tersebut. Adit mengaku walau rasanya jauh berbeda dengan rokok biasa, ia menikmati rokok elektronik karena mengandung banyak varian rasa.

“Sudah 3 bulan pakai rokok ini, tapi malah nggak berhenti-berhenti,” ujarnya.

Apakah rokok elektronik lebih aman? Ternyata tidak. The New England Journal of Medicine pernah mengemukakan bahwa rokok elektronik melepaskan senyawa formaldehida. Zat tersebut bisa menjadi penyebab kanker (karsinogen) ketika dipanaskan dengan baterai yang diatur pada tegangan tinggi.

Tidak hanya itu, David Peyton, seorang ahli kimia di Portland State University dan rekan-rekannya juga menguji rokok elektronik dengan dua pengaturan tegangan yang berbeda. Hasilnya, formaldehida tidak terdeteksi ketika rokok elektronik dalam tegangan rendah. Tetapi dalam pengaturan tegangan tinggi, kandungan formaldehida bisa 15 kali lebih banyak dari rokok biasa.

Para peneliti dari Washington University juga menemukan rokok ini tidak terlalu efektif dalam mengurangi konsumsi penggunaan pada rokok. Sebaliknya rokok elektronik lebih berbahaya dibandingkan rokok tembakau. Dari penelitian tersebut, perokok tanpa varian rasa lebih berhasil menghentikan kecanduannya 4 tahun lebih cepat dibanding dengan perokok yang menggunakan variasi rasa.

Rokok yang kini digunakan lebih dari dua juta orang ini memiliki jenis varian rasa di dalamnya. Rokok elektronik ini pertama kali dipatenkan oleh apoteker asal Tiongkok, Hon Lik, pada tahun 2003. Ia mendesain rokok elektronik sebagai alat penguap bertenaga baterai yang dapat menimbulkan sensasi seperti merokok tembakau. | Labibah

back to top