Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pernikahan dini sebabkan 359 kematian ibu

Pernikahan dini sebabkan 359 kematian ibu
Surabaya - KoPi | Data statistik menunjukkan, pernikahan dini di bawah 16 tahun di Jawa Timur telah mencapai angka 39,43% dari jumlah anak di Jawa Timur. Sekretaris Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) wilayah Jawa Timur Wiwik Afifah menyebutkan 1 dari 5 anak Indonesia menikah pada usia 15-18 tahun. Pernikahan ketika masih berusia anak adalah pernikahan dengan kondisi yang belum siap bagi anak.
 

"Dari segi kesehatan, anak masih mengalami tumbuh kembang. Organ reproduksinya pun belum siap untuk aktivitas reproduksi. Akibatnya sering terjadi kasus anemia pada saat hamil, kematian ibu dan bayi, atau melahirkan bayi dengan gizi rendah. Angka kematian ibu di Indonesia masih 359 per 100 ribu kelahiran dan 32 bayi mati per 1000 kelahiran," ungkap Wiwik.

Wiwik juga menyebutkan pernikahan dini memposisikan anak melakukan hubungan seksual lebih awal. Hal ini menjadi salah satu faktor penyebab kanker leher rahim. Jika dalam rahim terdapat Human Papilloma Virus (HPV), pertumbuhan sel akan menyimpang menjadi kanker.

"Berdasarkan data Departemen Kesehatan RI, di Indonesia terdapat 90-100 kasus kanker leher rahim per 100.000 penduduk. Anak perempuan adalah kelompok yang paling dirugikan dalam perkawina  usia anak, karena ketidaksiapan organ seksualnya," tukas Wiwik.

Selain itu, Wiwik mengungkapkan bahwa pernikahan usia dini juga rentan bagi anak untuk mengalami tindak kekerasan di rumah tangga (KDRT). KDRT menjadi salah satu penyebab angka perceraian yang meningkat. 

Wiwik menerangkan umumnya hal itu disebabkan karena tidak ada keharmonisan dalam rumah tangga. selain itu tidak ada tanggung jawab masing-masing pihak. 

Sedangkan pada anak perempuan yang mengalami Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), pemerkosan, kekerasan seksual, menikahkan mereka bukanlah solusi. Mereka akan mengalami trauma dan merasa gagal dalam perjalanan hidupnya. 

"Mereka akan jadi korban untuk yang kedua kalinya. Bisa dibayangkan mereka harus hidup dengan orang yang melakukan kekerasan padanya, dengan orang yang memperkosanya. Anak membutuhkan penguatan dan perlindungan serta pemenuhan haknya sebagai korban," ujar Wiwik.

back to top