Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Perempuan-perempuan penembus batas patriarkhi

Perempuan-perempuan penembus batas patriarkhi

KoPi | Jumlah perempuan mencapai 78.083.952 jiwa, atau 49 persen dari total populasi penduduk Indonesia tahun 2014. Mereka bukan hanya sekedar angka, namun fondasi dari hidup berbangsa dan bernegara. Sebab peran para perempuan bersifat dualitas, yaitu peran sebagai agensi pendidikan para generasi, sekaligus penggerak transformasi bidang ekonomi, sosial, politik dan kebudayaan. Namun demikian, masih cukup besar para perempuan dalam kondisi tergenggam dominasi patriarkhi, sehingga mereka termarjinal, tergagap, dan terseok di lembah ketidakberdayaan.

Marjinalisasi perempuan sesungguhnya mengingkari substansi dari setiap nilai kemanusiaan dan keagamaan. Nilai kemanusiaan, sebagaimana tercantum dalam kesepakatan hak asasi manusia, menempatkan perempuan sebagai manusia yang tidak berbeda dari laki-laki. Sebab perempuan terlahir dalam kondisi alamiah yang sama dengan laki-laki, dimana Tuhan meniupkan ruh dan memberikan napas kebebasan di dunia.

Nilai keagamaan, Islam misalnya, tidak menempatkan perempuan secara berbeda di hadapan Tuhan. Perempuan berhak menjalankan fitrahnya sebagai manusia. Bebas memilih siapa yang akan dinikahinya, pula bebas pula untuk meminta laki-laki mana yang diinginnya. Betapa agama telah memberi penanda yang jelas bagaimana perempuan sederajat dengan laki-laki.

Prof. Emy Susanti, Sosiolog Universitas Airlangga, sambil menarik napas dalam-dalam menjelaskan kepada KoPi di antara pertemuan dengan para tokoh perempuan Indonesia di Jakarta (26/2/14).

"Namun intepretasi kaum laki-laki terhadap sistem dan nilai di setiap wilayah kehidupan baik ekonomi, politik dan sosial sungguh keluar dari nilai kemanusiaan dan keagamaan itu sendiri. Sistem dan nilai yang memarjinalisasi para perempuan bukan bersumber dari kemanusiaan dan agama, namun kepentingan laki-laki".

Menurut profesor perempuan pertama di Departemen Sosiologi Universitas Airlangga tersebut, marjinalisasi perempuan oleh patriarkhi tidak sekedar merugikan perempuan. Marjinalisasi itu merugikan proses menuju masyarakat yang lebih kuat dan terhormat dari segala sisi. 

Menurutnya, pemberdayaan perempuan sesungguhnya bukanlah untuk perempuan itu semata namun untuk kepentingan nasional. Oleh sebab itu, dia mengharap negara memiliki strategi cerdas dan konsisten dalam pemberdayaan perempuan. Program-program pemberdayaan yang terintegrasi di berbagai area kebijakan kementerian baik sosial ekonomi, kesehatan, kebudayaan dan pembangunan. | NS 

back to top