Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Penjara bukan lagi tempat bagi pecandu

Penjara bukan lagi tempat bagi pecandu
Surabaya – KoPi | Kepala Humas BNN Pusat Slamet Pribadi mengatakan kampus-kampus perlu diberi peran sebagai kontributor rehabilitasi. Rehabilitasi penting bagi para korban penyalahgunaan narkotika pemula. Slamet menyatakan, jika para penyalahguna pemula tersebut dimasukkan ke penjara, mereka justru bertemu dengan bandar atau penyalahguna senior.
 

“Jadinya begitu keluar dia malah jadi kurir, jadi tambah parah penyalahgunaannya, atau jadi bandar baru. Sayang kan anak-anak masa depan ini masuk penjara,” ujarnya dalam Diskusi Panel Kelompok Ahli Badan Narkotika Nasional di Universitas Airlangga, Surabaya (26/3). 

Selama ini mahasiswa menjadi sasaran utama peredaran narkotika. Pengguna narkotika dari kalangan mahasiswa mencapai 27% dari total penyalahguna di seluruh Indonesia. 

Iwan menambahkan, UU telah mewajibkan negara untuk merehabilitasi para penyalahguna, bukan menghukum mereka. Pecandu dan korban berhak untuk disehatkan, diobati, dan dipulihkan.

“Kita akan merasakan pentingnya rehab apabila orang-orang yang kita cintai menjadi korban penyalahgunaan. Karena kalau tidak direhab barang-barang bisa hilang, dijual untuk beli narkotika,” ungkapnya.

Program 100 ribu rehabilitasi bagi pecandu dan korban penyalahgunaan narkotika bekerjasama dengan Kemenkes, Kemensos, TNI-Polri, Kemenhumham, dan Depdagri. BNN menyebutkan saat ini mereka melatih para konselor dan memberi pemahaman soal adiksi di instansi TNI-Polri, Kemenkes, Kemensos, dan rumah sakit-rumah sakit. Di rumah sakit milik TNI-Polri juga sudah disiapkan ruangan khusus untuk para pecandu yang mau direhabilitasi. Selain itu, seluruh RS di bawah Kemenkes yang ditunjuk akan disiapkan menjadi tempat bagi rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika. 

 

back to top