Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Nyadran ala nelayan Marunda

Nyadran ala nelayan Marunda

Jakarta-KoPi| Nelayan biasa melaksanakan kegiatan melaut itu harus ada “basa-basi” kepada laut. Artinya Allah SWT menciptakan dunia ini dengan berbagai macam isinya, termasuk manusia di darat, makhluk hidup yang di laut, makhluk-makhluk lain yang tidak keliatan/ghoib itu ada. Jadi paling tidak kita sebagai manusia telah diajarkan tata krama, mungkin tata krama kita seperti ini.

Demikian pernyataan Suaeb Mahbub, Koordinator Nelayan Marunda Kepu (09/08) disela kegiatan “nyadran” sedekah laut masyarakat kampung nelayan Marunda Kepu, RT 008/07, Marunda, Jakarta Utara.

Dijelaskannya bahwa mungkin saja kalau kita mau masuk ke kampung/wilayah orang itu ada presiden, ada menteri, ada gubernur, ada bupati, ada walikota, ada camat, ada lurah, ada RT, ada RW. Paling tidak kita harus melewati dan bahkan menghormati pos-pos tertentu.

“Dan itulah barangkali bahwa setiap kita mau jalan atau keluar kampung harus menghormati semua tetua kampung yang akan ditinggalkan, yaitu lingkungan sekitar kita dengan bebacaan tahlil, takbir, tahmid, memohon restu,” jelasnya.

Menurutnya bahwa “nyadran” itu berasal dari kata nazar, dan nazar itu suatu janji, serta janji itu adalah hutang, dan hutang itu harus dibayar. Jika nelayan itu berkah mereka mempunyai kewajiban menyelenggarakan sedekah laut atau biasa disebut “nyadran” dan suatu tradisi budaya nelayan dimana setiap pantai memiliki kearifan lokal yang biasanya dihormati pada setiap tempat penangkapan ikan.

“Jadi persoalannya disini kita melakukan adat dan tradisi nyadran yang merupakan sebuah kewajiban nelayan yang diucapkan sebelum memulai menangkap ikan,” ungkap Suaeb Mahbub yang juga sebagai Pemuda Pelopor Kebaharian Kemenegpora RI dengan tegas.

Ditambahkannya bahwa Allah SWT menciptakan alam ini dengan berbagai macam makhluk yang nyata maupun yang tidak kelihatan atau yang disebut makhluk alam ghoib. Disetiap sudut, ruang Allah menciptakan makhluk-makhluk dengan jumlah jutaan bahkan trilyunan. Wallahua’lam bisshowab, hanya Allah yang mengetahui. Jadi “nyadran” ini merupakan adat dan kebiasaan atau biasa disebut tata krama.

“Seperti itulah adat tradisi dan tata krama nelayan di Kampung Nelayan Marunda Kepu yang sangat menghargai dan menghormati nilai-nilai budaya kearifan lokal,” imbuhnya.|Aziz

back to top