Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Nyadran ala nelayan Marunda

Nyadran ala nelayan Marunda

Jakarta-KoPi| Nelayan biasa melaksanakan kegiatan melaut itu harus ada “basa-basi” kepada laut. Artinya Allah SWT menciptakan dunia ini dengan berbagai macam isinya, termasuk manusia di darat, makhluk hidup yang di laut, makhluk-makhluk lain yang tidak keliatan/ghoib itu ada. Jadi paling tidak kita sebagai manusia telah diajarkan tata krama, mungkin tata krama kita seperti ini.

Demikian pernyataan Suaeb Mahbub, Koordinator Nelayan Marunda Kepu (09/08) disela kegiatan “nyadran” sedekah laut masyarakat kampung nelayan Marunda Kepu, RT 008/07, Marunda, Jakarta Utara.

Dijelaskannya bahwa mungkin saja kalau kita mau masuk ke kampung/wilayah orang itu ada presiden, ada menteri, ada gubernur, ada bupati, ada walikota, ada camat, ada lurah, ada RT, ada RW. Paling tidak kita harus melewati dan bahkan menghormati pos-pos tertentu.

“Dan itulah barangkali bahwa setiap kita mau jalan atau keluar kampung harus menghormati semua tetua kampung yang akan ditinggalkan, yaitu lingkungan sekitar kita dengan bebacaan tahlil, takbir, tahmid, memohon restu,” jelasnya.

Menurutnya bahwa “nyadran” itu berasal dari kata nazar, dan nazar itu suatu janji, serta janji itu adalah hutang, dan hutang itu harus dibayar. Jika nelayan itu berkah mereka mempunyai kewajiban menyelenggarakan sedekah laut atau biasa disebut “nyadran” dan suatu tradisi budaya nelayan dimana setiap pantai memiliki kearifan lokal yang biasanya dihormati pada setiap tempat penangkapan ikan.

“Jadi persoalannya disini kita melakukan adat dan tradisi nyadran yang merupakan sebuah kewajiban nelayan yang diucapkan sebelum memulai menangkap ikan,” ungkap Suaeb Mahbub yang juga sebagai Pemuda Pelopor Kebaharian Kemenegpora RI dengan tegas.

Ditambahkannya bahwa Allah SWT menciptakan alam ini dengan berbagai macam makhluk yang nyata maupun yang tidak kelihatan atau yang disebut makhluk alam ghoib. Disetiap sudut, ruang Allah menciptakan makhluk-makhluk dengan jumlah jutaan bahkan trilyunan. Wallahua’lam bisshowab, hanya Allah yang mengetahui. Jadi “nyadran” ini merupakan adat dan kebiasaan atau biasa disebut tata krama.

“Seperti itulah adat tradisi dan tata krama nelayan di Kampung Nelayan Marunda Kepu yang sangat menghargai dan menghormati nilai-nilai budaya kearifan lokal,” imbuhnya.|Aziz

back to top