Menu
Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Prev Next

Merekonstruksi skenario Tuhan lewat film Tjokroaminoto

Christine Hakim (ke dua dari kiri) dan pemeran film "Guru Bangsa" Christine Hakim (ke dua dari kiri) dan pemeran film "Guru Bangsa"
Surabaya – KoPi | Aktris senior Christine Hakim mengaku merasa emosional ketika terlibat dalam pembuatan film “Guru Bangsa Tjokroaminoto”. Meskipun sudah tiga kali terlibat dalam film sejarah, perasaan emosional tersebut tetap muncul. Ia juga merasakan hal yang sama pada pembuatan film sejarah sebelum-sebelumnya.
 

Perasaan emosional itu ia rasakan ketika ia memasuki rumah HOS Tjokroaminoto di Gang Peneleh Surabaya, ia langsung menangis, terharu. Bahkan dalam jumpa pers dengan wartawan di depan rumah Tjokroaminoto, ia tak kuasa membendung air matanya.

“Saya tak tahu kenapa kali ini bisa merasa begitu emosional, sampai menangis. Sewaktu syuting film Cut Nyak Dien, saya menangis setelah melihat mahkota Sultan Mahmud. Dan saat itu yang terlintas di pikiran saya adalah sebuah pertanyaan yang membuat saya berpikir. Pertanyaan itu adalah: Mengapa bangsa ini jadi begini?,” ungkapnya dalam Kongres Pemuda 2015.

Baginya pembuatan film sejarah bukan hanya menapaktilasi perjuangan dan kisah hidup para pahlawan. Lebih dari itu, membuat film sejarah artinya merekonstruksi skenario Tuhan yang telah terjadi. Itu semua sudah terjadi di kehidupan nyata. “Itu yang sudah diamanatkan oleh Tuhan. Begitu pula pada Eyang Tjokro. Ia sudah diamanatkan Tuhan untuk menjadi guru bagi bangsa Indonesia,” tuturnya pada peserta Kongres.

Dalam film tersebut Christine Hakim memerankan sosok yang bernama Mbok Tambeng. Konon sosok tersebut benar ada pada masa Tjokroaminoto. Dalam film tersebut profil Mbok Tambeng melambangkan bagaimana seorang ibu pertiwi yang mengkhawatirkan nasib putra-putrinya.

Christine berpesan pada para pemuda untuk menjaga dan memelihara Indonesia. Bangsa ini perlu optmisme dalam menghadapi tantangan di masa mendatang. “Jangan meratapi nasib yang sedang terjadi saat ini. Sekarang waktunya ambil tongkat estafet perjuangan dari pendahulu kita. Sebagai pemuda harus optimis menghadapi masa depan. Hal itu diperlukan untuk mengubah masa depan Indonesia,” tegasnya.

back to top