Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Mahasiswa yang sudah tidak ditakuti siapa siapa

Mahasiswa yang sudah tidak ditakuti siapa siapa

 

Mahasiswa takut pada Dosen

Dosen takut pada Dekan

Dekan takut pada Rektor

Rektor takut pada Menteri

Menteri takut pada Presiden

Presiden takut pada Mahasiswa

Masih ingat dalam bayangan sajak karangan  Taufiq Ismail ini dilantunkan. Kekuatan mahasiswa dalam sistem kenegaraan  dalam sajak ini terlihat bertahta paling tinggi. Hingga, presiden saja takut dengan mahasiswa. Periode 98, kala dimana mahasiswa dapat menduduki atap kantor parlemen, menjatuhkan jabatan Presiden, dan menciptakan orde baru bagi Indonesia.

Kekuatan mahasiswa dikenal menjadi paling tinggi. Demonstrasi, aksi, kegiatan sosial, penelitian bahkan dalam kancah Internasional semua diperankan oleh mahasiswa. Namun, beriring waktu, banyak mahasiswa yang kian bungkam. Tidak berani kritis dan hanya duduk dibalik bangku seraya mendengarkan dosen.

Fahrul Muzaqqi, Dosen Universitas Airlangga menanggapi realitas tersebut. Menurutnya, penurunan intensitas mahasiswa dalam kritis terhadap masyarakat dan negara disebabkan oleh banyak hal.

“Aturan-aturan di Universitas yang mengkondisikan mahasiswa untuk cepat lulus adalah penyebab pertama penurunan dari kekritisan mahasiswa. Mereka sibuk dengan urusan kuliah dan tidak memiliki waktu untuk memperhatikan masyarakat dan negerinya” ujar Fahrul kepada KoPi, sabtu (22/08).

Fahrul melanjutkan adanya penyebab lain, yaitu volume mahasiswa yang semakin meningkat. Hal itu menyebabkan interaksi antar dosen dan mahasiswa menjadi terpengaruh. “Dosen tidak memiliki intensitas tinggi untuk mengenal satu persatu mahasiswa. Sehingga, pencapaian mahasiswa kerap dipukul sama rata. Penyerapan ilmu yang tidak kondusif tersebut menjadi bentuk berkurangnya respon sosial mahasiswa” tutur Fahrul sesaat setelah memberikan materi ‘Perspektif Kritis Mahasiswa FISIP’ pada mahasiswa baru periode 2015 di Universitas Airlangga.

Hal ketiga, adalah sistem pendidikan yang seolah menjadi sistem pasar. Adanya jalur rekrutmen mahasiswa yang longgar, sehingga orientasi kampus mengutamakan materi. Bagi Fahrul, hal ini mempengaruhi proses kegiatan belajar mengajar. Akhirnya mahasiswa kuliah dengan orientasi sistem pasar juga. “Ada mahasiswa yang kuliah nyambi kerja, atau pikirannya semata-mata segera lulus dan mencari kerja. Mereka terburu-buru berfikiran profit materi,” lanjutnya.

Fahrul menduga penyebab penurunan kritis para mahasiswa disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat. “Saat ini sangat sulit menentukan data valid maupun tidak. Hal ini menyebabkan cara pandang yang bervariasi. Dulu, saat sistem informasi masih sulit untuk didapatkan, keinginan mahasiswa untuk mencari ilmu sangatlah besar. Saat ini ketika informasi sangat berlimpah, justru memunculkan rasa kemalasan dan kebingungan,” tutup Fahrul.

Dosen politik Universitas Airlangga tersebut berkeyakinan bahwa mahasiswa, Fisip terutama, harus mampu untuk membaca situasi agar dapat memiliki kepekaan sosial. Dalam mendeteksi kondisi masyarakat hal yang perlu dilakukan adalah menulis atau bertindak.

“Saat ini grafik ekonomi Indonesia agak turun. Seharusnya butuh penyikapan tertentu dari mahasiswa yang dapat dilihat kasat mata oleh pemerintah. Bukan berarti harus demonstrasi secara terus menerus melainkan pada situasi-situasi genting bagi Indonesia, mahasiswa harus turun!” tukasnya. |Labibah|

back to top