Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Magelang, Peluang Investor Hiburan

Magelang, Peluang Investor Hiburan

Kota Magelang-KoPi| Jika Anda menyebut Kota Magelang, tentu maksudnya bukan Kabupaten Magelang. JIka Kabupaten Magelang memiliki Mandala Borobudur, maka Kota Magelang memiliki Akademi Militer Angkatan Darat dan Gunung Tidar. Di masa lalu, Kota Magelang memang merupakan Ibu Kota Magelang hingga kemudian terbit UU RI No 13 Tahun 1950 yang menetapkan Kota Magelang sebagai kota mandiri dengan tiga wilayah kecamatan.

Saat ini, di tahun 2015 Kota Magelang dipimpin Ir. Sigit Windyonidito sebagai walikota. Dibanding pemerintahan sebelumnya, Kota Magelang saat ini lebih tampak sebagai kota yang tertata. Baik pembangunan kotanya maupun program kesejahteraannya. Alun-alun, misalnya, yang berada di pusat kota, menjadi lebih rapi dan enak dilihat. Beberapa masyarakat yang berdagang di sana mengatakan lebih suka seperti ini.

"Tampak lebih rapi dan beradab," kata Kusno, salah seorang pemilik lapak di Alun-Alun.

Tidak jauh dari Alun-Alun, melewati Jalan Pemuda yang teduh, di sana terdapat pasar tardisonal yang dikenal sebagai Rejowinangun. Pasar ini sempat terbakar di sekitar tahun 2009 dan menjadi masalah yang agak pelik dalam proses pemabangunannya. Namun, sekarang, meskipun beberapa masyarakat masih mengeluhkan terutama soal sewa tempat, namun secara umum sudah mulai berjalan secara baik. Menurut kabar, pasar baru ini menghabiskan investasi senilai 129 milyar rupiah.

Tidak hanya itu, jika kita melewati dareh Trunan, wilayah sekitar Gunung Tidar yang terkenal sebagai Paku Jawa, di sana tampak beberapa hotel berbintang tegak megah berdiri, seperti Hotel safira dan Atria. Jangan salah, meskipun Kota Magelang kota kecil, tetapi kebutuhan akan jasa penginapan dan hiburan sangatlah besar.

Kota Magelang adalah kota yang menurut Walikota Magelang Sigit Windyonindito wilayah yang komparatif. Daerah yang yang menjadi simpang siur antar wilayah utama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Dengan demikian ia menjadi sangat strategis.

Pelbagai event tahunan yang berada di Kota Magelang, seperti di Akademi Militer, Borobudur dan lain-lain membuat bisnis hotel di Kota Magelang menjadi sesuatu yang menarik. Kota Magelang juga dikenal sebagai tempat bagi orang-orang yang berpunya dan untuk itu jasa hiburan juga sangat laku dalam dunia bisnis. Secara resmi, penduduk Kota Magelang sekitar 100 ribu-an penduduk, tetapi, faktanya, penduduk Kabupaten Magelang merupakan bagian penduduk yang melakukan pelbagai transaksi di Kota Magelang melalui Pasar Rejowinangun atau Pasar Gotong Royong yang beroperasi malam hari.

Di era kepemimpinan Sigit pula, Kota Magelang tidak saja menjadi lebih cantik, tetapi juga hidup dalam sektor wisata dan budayanya. Gunung Tidar, misalnya menjadi wisata ziarah yang mulai dikenal dan dilirik banyak wisatawan spritual. Di Gunung setinggi 503 meter dpl ini terdapat beberapa makam yang sangat terkenal di kalangan masyarakat. Makam Syekh Subakir, Makam Cungkup Panjang Tombak Syehk Subakir, Petilasan Pangeran Purboyo serta Cungkup Makam Kyai Semar.

Festival Gethuk juga merupakan event tahunan yang sangat meriah. Festival ini biasanya berada bulan April untuk memperingati ulang tahun Kota magelang. Grebek Gethuk menjadi lebih hidup sejak Sigit Windyonidito memimpin Kota Magelang 2010. Menurut seniman serba bisa Andritopo, Festival ini memberikan warna yang berbeda di Kota Magelang.

"Masyarakat sangat antusias dengan festival ini. Bukan saja masayarakat kota dan kabupaten yang datang, tapi juga masyarakat luar kota Magelang," katanya.

Dari semua kebijakan itu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Magelang meningkat setiap tahunnya. Lihat saja, tahun 2009 tercatat PAD sejumlah 380, 5 milyar rupiah (12,54%). Kemudian tahun 2013 tercatat kenaikkan mencapai 16,97% atau menjadi 634, 7 milyar rupiah. Bahkan kemudian naik lagi menjadi 714, 7 milyar rupiah atau naik 17,41%.

Kota Magelang, mungkin kecil, tapi indah dan berpotensi. Untuk itu mengapa Kota Magelang dicanangkan sebagai Kota Sejuta Bunga. Kota ini, mungkin punya peluang besar bagi bisnis hiburan. Silakan datang bila ingin beriventasi atau sekedar wisata| E Hermawan| Veronica Dewi

back to top