Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Kisah Waduk Sakti Sepat dan ikatan leluhur

Waduk Sakti Sepat sebelum ditutup PT Ciputra Surya Waduk Sakti Sepat sebelum ditutup PT Ciputra Surya
Surabaya – KoPi | Setelah bentrok warga dengan polisi Selasa (4/4) lalu, kondisi Kelurahan Sepat sudah mulai tenang. Meski demikian mereka curiga terhadap kehadiran orang asing. Maklum, beberapa warga mereka ditahan polisi dengan tuduhan menjadi provokator.
 

Seperti ketika KoPi bertanya mengenai kondisi terakhir mediasi antara Pemkot, PT Ciputra, dan warga Sepat, warga sempat curiga. Setelah menjelaskan duduk persoalan, mereka mulai bersedia bercerita mengenai Waduk Sakti Sepat.

Waduk Sakti Sepat merupakan lokasi wisata pemancingan yang terletak di Kelurahan Sepat, Lakarsantri, Surabaya. Warga bercerita waduk ini sudah ada sejak masa penjajahan Belanda. Menurut mereka, waduk ini telah menjadi identitas bagi warga sekitar. Waduk tersebut dibangun dengan prakarsa warga secara mandiri untuk menghindari banjir akibat luapan air hujan.

Warga mengaku tanah di waduk tersebut merupakan tanah leluhur, jadi tidak ada yang klaim resmi berupa sertifikat di lahan tersebut. “Waduk ini sudah ada sejak sebelum ada pemerintahan. Secara kronologis tanah itu adalah tanah leluhur masyarakat kampung Sepat. Sudah ada ikatan yang terbentuk sejak jaman penjajahan Belanda,” ujar Rochim, ketua RT 4 Kelurahan Sepat.

Perasaan keterikatan tersebut semakin kuat karena warga merasa berhutang pada waduk tersebut. Pada masa penjajahan Inggris, waduk Sepat digunakan warga untuk mengungsi. Warga menceritakan kisah bagaimana tentara Gurkha Inggris mencari warga yang mengungsi ke Waduk Sepat, namun justru melihat lautan. Perasaan hutang budi tersebut juga terus ada hingga sekarang, karena dengan adanya Waduk Sakti Sepat, kawasan Lakarsantri sampai sekarang tidak pernah mengalami banjir parah ketika musim hujan.

 

back to top