Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Jalan tikus, sepeda motor harus turun!

Jalan tikus, sepeda motor harus turun!
Surabaya - KoPi | "Naik kendaraan bermotor harap turun!" "Pelan-pelan, banyak anak kecil"

Tulisan semacam itu sangat wajar ditemui di berbagai kota besar seperti di Surabaya. Pengguna motor atau roda dua yang kerap melewati gang-gang kecil atau biasa disebut jalan tikus harus dengan terpaksa mematikan mesin dan mendorongnya. Jalan yang biasanya berukuran kurang dari dua meter ini kebanyakan menjadi penghubung beberapa jalan besar tanpa harus memutar jalan.

Pertumbuhan kendaraan roda dua di kota besar membuat kapasitas jalan semakin berkurang. Tak ayal lagi jalan alternatif atau jalan tikus dimanfaatkan untuk menghindari kemacetan. Menurut Satlantas Polrestabes Surabaya jumlah kendaraan bermotor di Surabaya saat ini mencapai 3.333.947 unit.

Jalan tikus sendiri sebenarnya merupakan jalan penghubung pemukiman warga. Umumnya jarak antar jalan di pemukiman warga dengan teras rumah warga sangat dekat dan tidak berpagar. Warga sering menggunakan jalan tersebut sebagai lahan kegiatan rumah tangga. Misalnya menjadi tempat menjemur pakaian, menjemur kerupuk atau nasi, dan lain sebagainya. Bagi pengguna sepeda motor, jalan tikus dijadikan sebagai jalan utama untuk perjalanan menghindari macet untuk sampai tujuan.

Sikap semena-mena pengguna sepeda motor yang memanfaatkan jalan tikus sebagai jalur alternatif menjadi sangat mengganggu warga. Sering kali pengendara motor lewat dengan kecepatan tinggi sehingga membahayakan warga, membunyikan klakson, bahkan menggunakan knalpot bising yang menganggu aktivitas warga.

Titi, salah seorang pemilik rumah di Gang Gubeng Jaya 2 mengaku sering terganggu dengan kendaraan motor yang lewat di depan rumahnya. “Sebelumnya diberi tanda larangan mengebut, tapi karena jalan ini juga sering jadi tempat bermain anak-anak, jadi rawan kecelakaan. Belum lagi bisingnya knalpot dari motor yang lewat, sehingga warga sepakat kendaraan yang lewat di sini harus dituntun,” ujarnya.

Warga mengatakan, meski sudah diberi peringatan untuk turun, banyak pengguna motor yang tetap menaiki motornya, bahkan mengebut. “Kami biasanya memberi teguran langsung dan meminta mereka turun jika terlihat mata” ujar Sari, warga lainnya. Warga gubeng jaya mengaku memberi apresiasi dalam bentuk senyuman manis bagi para pengguna sepeda motor yang bersedia menuntun motornya sepanjang 100 meter.

Walaupun merupakan jalan umum yang dimiliki pemerintah, warga Gubeng Jaya menghimbau pengguna motor untuk menggunakan jalan yang seharusnya. Mereka berharap gang sempit yang menjadi tempat aktivitas warga tidak diganggu dengan kesemena-menaan pengendara motor yang lewat.

Menurut pakar Antropologi Budaya Universitas Airlangga, Drs. Djoko Adi Prasetyo M.Si., masyarakat memberikan sebuah simbol ketika membuat tanda larangan semacam itu. Hal tersebut merupakan kejenuhan masyarakat setempat dalam memperingatkan pengguna sepeda motor secara lisan.

“Itu merupakan simbol agar pengguna jalan lebih hati-hati dalam melewati jalan. Hal tersebut merupakan isyarat praktis ketimbang harus memberi peringatan secara terus menerus dengan menggunakan lisan” ujarnya.

Namun, masyarakat pula harus memperhatikan status jalan tersebut, apakah itu jalan kampung, desa, kota atau bahkan provinsi. Jika di kampung atau desa, hal tersebut dinilai sangat wajar. Hal itu mengingat budaya sopan santun yang masih sangat kuat di masayarakat. | Labibah

back to top