Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Interupsi-Interupsi Rapat Pleno Tatib Muktamar NU Memanas

Jokowi Membuka Muktamar NU ke-33 Jokowi Membuka Muktamar NU ke-33

Interupsi-interupsi mewarnai rapat pleno tata tertib di Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU), Minggu, 2 Agustus 2015. Rapat pleno tersebut dimulai dari pukul 14.45 WIB dan semakin memanas.

Jombang-KoPi| Sebagai pimpinan sidang pleno, Slamet Effendi Yusuf kemudian menskors sidang dan mengumandangkan sholawat nabi agar suasana menjadi lebih dingin dan cair. Meskipun saat sidang dilanjutkan pada malam hari, berbagai interupsi tetap masih terjadi dan memanas.

Suasana memanas saat membahas Bab V Pasal 14 tentang Pimpinan Sidang, yaitu bahwa Pimpinan sidang ditetapkan oleh PBNU.

Pihak yang setuju dengan draf tersebut dimotori oleh pihak dari Jawa Timur dan Bangka Belitung yang berpendirian bahwa pemimpin sidang pleno dari pengurus PBNU karena muktamar ini diselenggarakan juga dari PBNU.

Sementara itu pihak yang dimotori dari Sulawesi Selatan dan Papua menyatakan, bahwa pimpinan sidang pleno harus dipilih muktamirin.

Sedangkan perwakilan-perwakilan seperti dari Aceh dan Lampung bersikap netral dan meminta para muktamirin menjaga kesantunan dalam berbicara, dan pembahasan pasal tata tertib.
Di sela situasi yang memanas, anggota Banser NU dapat sigap mengamankan peserta yang terbawa emosi menyerbu peserta yang mengusulkan diadakannya voting.

Dalam situasi ini, ada dua usulan win-win solution, yaitu pertama, usulan dari salah satu pengurus cabang Jawa Timur yakni pertama, pimpinan sidang pleno tetap dipimpin PBNU, namun setelah demisioner dan pemilihan Rais Aam serta Ketua Umum PBNU, pimpinan sidang diserahkan kepada 7 orang muktamirin;

kedua, usulan dari perwakilan Sulawesi Utara yang menawarkan agar pimpinan sidang dipilih dari peserta yang terdiri dari unsur satu orang perwakilan PBNU sebagai ketua sidang, seorang dari Pengurus Wilayah NU sebagai sekretaris ,dan seorang dari perwakilan cabang menjadi anggota.

Kedua usulan win-win solution tersebut tidak langsung disetujui oleh pimpinan pleno tata tertib karena usulan-usulan tersebut akan dibahas dalam forum lobi yang melibatkan seluruh Pengurus Wilayah NU se-Indonesia. |URS|

back to top