Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Ini yang seharusnya lebih diwaspadai saat bencana

Ini yang seharusnya lebih diwaspadai saat bencana
Surabaya - KoPi Kondisi bencana membuat gagap pemerintah dalam menyelesaikan permasalahannnya. Sehingga banyak hal-hal kecil yan terlupa padahal sangat fatal akibatnya. Seperti minimnya ruang dalam penanaganan ibu yang memberi ASI kepada anak. Ini kerap terlupa.

Kondisi lengah seperti ini kerap menjadi ajang promotor susu foormula untuk memberikan donasi bagi para korban bencana. Susus formula yang diberikan secara gratis tersebut dengan mudah diberikan pada bayi yang sebelumnya dalam program ASI esklusif.

dr. Dini Adityarini , SpA, menyayangkan produsen susu formula yang denganmudah memanfaatkan momen bencana sebagai media promosi. “Kebiasaan pemerintah kita selalu gelagapan ketika terkena musibah. Jadi sangat mudah celah bagi produsen susu formula untuk masuk. Atau bahkan memang bekerjasama dengan dinas-dinas terkait” ujarnya kepada KoPi.

Dokter muda cantik ini menyimpulkan hal-hal yang seharusnya disediakan pemerintah saat bencana terjadi. “Sedikan ruang yang layak dan nyaman untuk para ibu-ibu menyusui. Berikan makanan support penunjang agar ASI yang dikeluarkan bisa banyak. Berikan tim medis khusus yang dapat menangani para ibu yang memberikan ASI. Itu yang seharusnya dilakukan. Tapi kerap malah terbengkalai” tutur Dini.

Menurutnya, pemberian susu formula pada korban bencana malah akan memunculkan bencana baru bagi masyarakat. Sebab, bagi Dini higenitas air dan peralatan untuk menggunakan susu formula sangat buruk. “Air, alat masak, botol susu yang dipakai pastinya tidak higenis. Jika bayi diberikan susu formula, malah akan memunculkan penyakit baru yang berkaitan dengan virus. Seperti diare dan penyakit lainnya” tutur Dini.

Maka, fokus pemerintah seharusnya dipecah. Harus ada penanganan khusus bagi para ibu yang menyusui. Sebab kerap ibu menjadi stress dan ASI yang dikeluarkan menjadi sedikit. Namun jangan dijadikan hal itu sebagai upaya untuk memberikan susu formula. Akan muncul penyakit baru pada bayi jika ibu memberikan susu formula.

Menurut data UNICEF dampak pemberian susu formula saat bencana terjadi sangat besar. Pada tahun 2010 pemberian susu formula pada bayi sebesar 25,1% namun pada tahun 2012 terdapat kenaikan sebesar 30,3%.

Dini menghimbau pemerintah untuk lebih memberikan ruang pada ibu menyusui. Meskipun pemerintah sendiri telah memebrikan peraturan secara hukum yang menerangkan bahwa ibu harus menyusui anak secara ASI esklusif. Namun, tidak ada tindakan nyata dalam membantu para ibu untuk bisa menyusui ASI. Penganggu terbesarnya merupakan kehadirn susu formula yang diberi ruang sangat besar untuk melakukan promosi produknya. 

back to top