Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Indonesia, masyarakat sampah (?)

Kedu-KoPi. Puasa ramadhan usai dan datanglah hari Idul Fitri yang menjadi 'puncak' perjalanan ruhani kaum muslimin seluruh dunia. Masyarakat Indonesia merayakannya penuh suka cita. Saling bermaafan adalah cara yang membahagiakan. Sungguh khusuk dan tenang. Namun suara ledakan keras berkali-kali menyayat kekhusukan, dari arah ruas jalanan dan pojok-pojok kota.

Ada yang 'merayakan' hari suci itu dengan ledakan-ledakan mercon. Mereka menciptakan suasana ketakutan pada orang lain, daripada memberi kemeriahan. Menciptakan kengerian daripada menegur sapa menyenangkan. Tidak sedikit kecelakaan akibat mercon mengakibatkan korban luka dan jiwa.

"Saya sih suka-suka aja. Rasanya senang dengar suara keras." Sahut Eko, pemuda berusia 20 tahun, di Kota Magelang ketika ditanya mengapa suka bermain mercon. Dia tidak menjawab ketika ditanya tentang bahaya mercon pada diri sendiri dan orang lain.

Setelah berpesta mercon, sampah berserakan. Kertas-kertas kemasan mercon bertebaran. Tak ada yang peduli. Lingkungan tampak kotor dan suram. Sosiolog dari Universitas Airlangga, Dr. Tuti Butirahayu, memprihatinkan fenomena sosial mercon tersebut.

"Sebagian masyarakat Indonesia tidak memiliki nilai menghargai dan menghormati orang lain. Ada krisis ketidakpedulian pada kesadaran kolektif masyarakat. Mercon itu membahayakan orang lain, namun para pelaku tidak peduli".

Doktor pakar sosiologi pendidikan dan perilaku menyimpang ini juga menyatakan bahwa perilaku menyalakan mercon dan sampah berserakan merupakan tanda krisis kolektif. Itu bukan saja fenomena kenakalan namun terkait faktor habit (kebiasaan) dari setiap level kepemimpinan sosial.

"Perlu pendidikan lebih sistematif tentang saling menghormati di ruang publik. Pendidikan menjadi efektif jika para pemimpin sosial bersedia menjadi guru dalam kehidupan sehari-hari melalui keteladanan, bukan malah menjadi pelaku perilaku menyimpang".*

 

Reporter: Winda Nur

 

back to top