Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Hunian Sementara Yang Layak Huni

Hunian Sementara Yang Layak Huni

NTB-KoPi| Bencana gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Barat telah meluluhlantakkan perekonomian daerah lombok bagian utara. Hampir seluruh bangunan rumah dan gedung dalam kondisi rusak berat.

Di daerah kecamatan Pemenang, kabupaten Lombok Utara, misalnya, hampir seluruh bagunan kini rata dengan tanah. Sisa-sisa bangunan yang dianggap tidak layak ditempati tersebut bahkan dirobohkan oleh warga karena berisiko akan runtuh apabila diguncang gempa kembali.

Alhasil, banyak warga memilih tinggal dan hidup di tenda pengungsian untukmeminimalisir risiko. Setiap harinya mereka memilah dan menyelamatkan beberapa sisa bangunan yang dianggap masih bisa dipakai seperti material batu bata, kusen jendela dan pintu.

Untuk meningkatkan rasa kenyamanan warga selama tinggal di tenda pengungsian, Fakultas Teknik UGM berinisiatif membangun rumah hunian transisi atau huntras. Rumah sementrara ini dibangun di lokasi rumah warga dengan menggunakan bahan baja ringan dengan fondasi besi baja. Berukuran 3x6 meter, rumah hunian sementara ini diharapkan bisa memberi kenyamanan bagi warga.

Pembangunan rumah transisi ini dilakukan oleh sembilan orang mahasiswa KKN Peduli Bencana Lombok. Setiaphari mereka mensurvei rumah warga yang akan dibangun huntras, membantu membersihkan sisa-sisa puing reruntuhan dan mensosialisasikan program tersebut ke warga.

Farid Fadlillah, 21 tahun, mengatakan ada 50 rumah akan akan dibangun huntras di dusun Karang Pansor dan Karang Petak. Mahasiswa dari Departemen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik ini menuturkan ia bersama rekan mahasiswa lainnya melakukan pendataan terkait rumah-rumah yang dianggap paling membutuhkan. “Kita meminta data pada kepala dusun,”ujar Farid, Senin (3/8), ditemui di sela-sela pengerjaan huntras di dusun Karang Pansor, Desa Bangsal, Pemenang, Lombok Utara.

Menurutnya tidak mudah mensosiallisaikan program rumah hunian transisi ini karena yang akan dibangun hanya 50 buah rumah dari dua dusun sementara untuk satu dusun berjumlah hampir 300-450 kepala keluarga yang sebagian rata-rata rumah mereka sudah dirobohkan. “Awalnya beberapa warga menolak, karena merasa tidak enak dengan warga lainnya yang tidak dibangun, tapi setelah dilakukan pendekatan akhirnya mereka mau, warga mulai antusias dan ikut gotong royong,” katanya.

Untuk proses pengerjaan bangunan huntras ini, mendatangkan para tukang las yang proses pengerjaannya diawasai oleh para mahasiswa. Sementara untuk pengerjaan dinding rumah yang menggunakantriplek bisa dilakukan sendiri oleh warga dimana material disediakan oleh Fakultas teknik UGM yang dibantu melalui dana bantuan Kementerian Perhubungan.

Azhar Saputra, ST., MT., Ph.D., Dosen pembimbing lapangan KKN Peduli Bencana mengatakan desain hunian transisi menggunakandesain dari Fakultas Teknik UGM. Konsep dari bangunan huntras diharapkan bisa menjadi bagian dari material bangunan hunian tetap warga selanjutnya. Sebab, pengalaman selama di daerah yang terkena gempa, banyak bekas bangunan hunian sementara tidak digunakan lagi atau bahkan dibuang karena material sudah rusak. “Dengan bangunan ini bisa digeser materialnya bisa digunakan untuk fondasi bangunan baru,”katanya.

Selain itu, manfaat dari bangunan ini menurut Azhar, para warga yang menjadi korban genvana ini bisa terlindungi dari panas terik matahari dan hujan.”Kita berharap masyarakat tidak lagi tingal di bawah tenda saat musim hujan, secepatnya bisa bisa memindahkan warga ke sini (huntras),”katanya.

Proses pengerjaan satu buahunit rumah menurut Azhar dibutuhkan sekitar waktu 6-7 jam. Sementara total biaya pengerjaan untuk satu unit rumah sebesar Rp 13,5 juta. “Jika tidak dibikin begini, nanti kasihan, apakah mereka mau berlama-lama tinggal di tenda,”ujarnya.

Untuk proses pengerjaan rumah huntras ini pihak Fakultas Teknik UGM menggandeng Kukuh Sugiarto,45 tahun, salah seorang pemilikperushaan kontraktor lulusan prodi teknik sipil UGM yang memiliki kepedulian untuk membantu proses pengerjaan hunian tempat tinggal sementara bagi warga.

Menurut cerita Kukuh, keterlibatannya dalam pembanvunan huntras ini berawal dari inisiatifnya menghubungi salah seorang dosen sekolah vokasi UGM untuk membantu pemetaan gedung yang rusak akibat gempa di Mataram, Lombok. “Selanjutnya saya dihubungi pak Azhar,saya coba support sebagai sesama alumni, untuk proses pengerjaanya,saya menerapkan apa yang sudah didesain sekaligus melatih sepuluh pemilik bengkel las di lombok,”katanya.

Menurut Kukuh, untuk sementra ini baru sekitar lima buha rumah yang sudah selesai penegrejananya untuk sisa selanjutnya ia berharappara mahasiswa bisa menjadi supervisi dalamsetiap proses pengerjaan yang dilkaukan oleh tukang.”Kita ingin mahasiswa mengerti setiap masalah dan mencari solusinya ,karen ada hal teknik dan sosial yang barangkali tidak mereka temukan di dunaikampus,”katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)

back to top