Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Dua juta perempuan Indonesia melakukan aborsi

Jogjakarta-KoPi| Setidaknya 2 juta perempuan di Indonesia melakukan praktek aborsi atau Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), baik secara legal maupun ilegal. Sekitar 83% diantaranya berasal dari perempuan berstatus keluarga, dan 2,1% pernah menikah, sisanya 16,6% belum menikah. Hal ini mematahkan asumsi yang beredar, pelaku aborsi dari kalangan remaja.

Menurut direktur Eksekutif PKBI, Chatarina Wahyurini setiap tahun ke tahun pelaku KTD cenderung turun. Bahkan adanya jumlah 2 juta pelaku KTD masih tergolong rendah. Adapun faktor yang mendorong perempuan melakukan aborsi karena faktor ekonomi dan psikologi-sosial.

"Misal karena program KB yang gagal, faktor ekonomi jumlah anak, tidak ingin punya anak banyak," jelas Chatarina saat jumpa pers di Novotel pada Jumat tanggal 4 Desember 2015.

Chatarina menambahkan para pelaku KTD sering melakukan pengguguran kandungan. Tercatat terdapat 32% klien menggugurkan melalui jamu tradisional, 15% melalui medis dan sekitar 1% melalui dukun.

Berbagai upaya tersebut sangat riskan bagi perempuan. Penanganan yang salah berakibat fatal bisa mematikan ibu dan janinnya sekaligus.

Chatarina mendorong pemerintah memfasilitasi pelayanan medis terhadap KTD. Namun sayang fasilitas medis KTD masih terkesan setengah hati.

"Aborsi masih dianggap pembunuhan, adanya fatwa MUI. sehingga pelaku KTD kita rujuk ke klinik PKBI, kalau ke luar kota dirujuk ke jaringan PKBI," jelas Chatarina. |Winda Efanur FS|

back to top