Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Cinta mereka yang tidak lagi bisa ditutupi

(dari kiri) Novri Susan, Christine Hakim, Reza Rahardian, dan Najib Azca (dari kiri) Novri Susan, Christine Hakim, Reza Rahardian, dan Najib Azca

KoPi | Cinta bergulir dari ranting-ranting waktu kepada setiap hati. Seperti embun yang tidak terbebani dari ujung daunan kepada bumi. Mungkin seperti itu yang terjadi antara subyek manusia dengan masa depannya. Mereka manusia menggulirkan cinta sebagai masa depan kepada generasi dan tanah pertiwi. 

Cinta itu adalah bumi pertiwi. Awal manusia, dan segala makhluk, memijakkan hidup, pula akhir dari setiap perjalanan sebagai pengembara yang membangun peradaban dan masa depan. Karena itulah manusia akan membela tanah pertiwinya agar terjaga, terhormat dan tersayang. Sebab demikian, tidak boleh ada kata takut, menyerah dan diam dalam mencintai tanah pertiwi.

Demikian sari diskusi dalam Kongres Pemuda 2015 yang bersamaan dengan launching film Tjokroaminoto sang guru bangsa. Para tokoh hadir dalam diskusi tersebut di antaranya Novri Susan, cendikiawan muda Universitas Airlangga, Reza Rahardian, Christine Hakim, Sabrang, dan Nirwan Arsuka. Sosiolog UGM, Najib Azca, menjadi moderator sekaligus tim perumus kegiatan kongres.

Reza Rahardian dan Christine Hakim merupakan aktor utama dalam film Tjokroaminoto. Namun keduanya bukan hanya sekedar bermain film, namun sungguh film itu merupakan bagian dari kerja mencintai tanah pertiwi yang saat ini tengah berupaya tumbuh segar lagi.

Pada sebagian tuturnya, Christine Hakim melepas air mata, bukan karena cengeng, namun menanda betapa kuatnya kecintaan itu kepada tanah pertiwi. 

"Indonesia adalah tempat yang indah, dalam naungan berkah Allah. Dulu bangsa ini berjuang melawan perampokan kaum penjajah (Belanda, red.) sebagaimana dilakukan Tjokroaminoto. Kini bagaimana sejarah tersebut agar bisa direkonstruksi oleh bangsa Indonesia, oleh para pemuda di tengah penindasan baru dalam bentuk korupsi". 

Reza Rahardian pemeran tokoh Tjokroaminoto, juga menutur para pemuda yang berkumpul di Balai Pemuda Surabaya. Tuturnya bersemangat, menjelaskan bagaimana Tjokroaminoto berani melawan penindasan. Agar tanah pertiwi tidak terlukai, agar rakyatnya hidup makmur tak terkebiri.

"Tjokroaminoto melawan, tidak diam. Ada penindasan di depan mata. Dia bekerja nyata, jelas, dan konsisten".

Nilai dalam bentuk semangat, komitmen dan ideologi pembebasan Tjokroaminoto telah melahirkan tokoh-tokoh besar pendiri bangsa.

Novri Susan meyakinkan bahwa nilai-nilai Tjokroaminoto lebih dari cukup untuk menciptakan transformasi menuju Indonesia yang indah.

"Keberanian dipupuk dengan ilmu pengetahuan dan kekuatan iman (Islam, red.) telah menciptakan figur yang 'nakal' dari Tjokroaminoto. Nakal bagi para penindas. Dia mempertanyakan ketidakadilan dan kesemenaan. Itu adalah hal-hal kecil darinya yang melahirkan perjuangan dan para pejuangnya. Hal-hal kecil itu jika dimiliki para pemuda saat ini, maka tanah pertiwi akan menjadi indah oleh kehadiran keadilan dan ketidakhadiran penindasan." 

Cinta adalah tanah pertiwi. Tidak perlu ditutupi. Mungkin seperti itulah seharusnya memahami Tjokroaminoto. |Yusuf Perwira

back to top