Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Bergulat dalam kemacetan Surabaya

Salah satu simpul kemacetan di Surabaya, fly-over Wonokromo Salah satu simpul kemacetan di Surabaya, fly-over Wonokromo Dishub Surabaya
Surabaya – KoPi | Kemacetan bukan lagi monopoli Jakarta. Masalah kemacetan juga telah menyambangi Surabaya. Meski belum separah Jakarta, tak pelak kemacetan Surabaya menambah beban ongkos transportasi bagi warga. Berapa menit yang terbuang dengan berada di jalanan Surabaya? Koran Opini mencoba menelusuri jalanan Kota Surabaya untuk Anda.

 

Koran Opini mengukur waktu tempuh salah satu jalanan paling padat di Surabaya, yaitu dari kawasan Tunjungan hingga ke batas kota, di terminal Purabaya atau Bungurasih di kawasan Waru. 

Berdasarkan Google Maps, waktu tempuh dari kawasan Tunjungan Plaza di pusat kota hingga ke terminal Bungurasih adalah sekitar 20 menit. Itu tanpa kepadatan lalu lintas. Namun kenyataannya, perjalanan pada tengah hari memakan waktu lebih lama dari itu. 

Dengan mengendarai sepeda motor perjalanan bisa memakan waktu 10 menit lebih lama. Jika ingin lebih cepat, pengendara motor harus pintar-pintar bermanuver menghindari kemacetan lalu lintas. Jika pergi dengan mobil pribadi justru akan makan waktu jauh lebih lama, karena mobil tidak bisa bergerak lincah di tengah kepadatan lalu lintas. 

Bagaimana dengan kendaraan umum? Dengan mencoba mengendarai angkutan kota atau lyn yang langsung menuju ke Terminal Purabaya, waktu tempuh bahkan memakan waktu lebih lama. Pada saat macet, perjalanan memakan waktu sampai 1 jam lebih. Ngetem menjadi penyebabnya. Meskipun jalan di sepanjang jalur Tunjungan-Waru dipasang rambu dilarang berhenti dan menaikkan atau menurunkan penumpang, lyn tetap saja berhenti setiap beberapa menit.

Salah satu pilihan adalah dengan menggunakan moda transportasi komuter. Transportasi berbasis kereta api ini tidak terkena efek kemacetan lalu lintas. Selain itu, ketepatan waktu komuter masih bisa diandalkan. 

Namun, moda transportasi ini hanya memiliki 6 jadwal saja dalam sehari. Komuter juga masih harus berbagi rel dengan kereta lain. Penumpang yang ingin menggunakan moda transportasi ini terpaksa harus menuju stasiun terdekat terlebih dulu, yang jumlah dan persebarannya terbatas.

Komuter sendiri sebenarnya lebih ditujukan bagi penduduk yang tinggal di wilayah sekitar Surabaya, seperti Sidoarjo dan Lamongan. Waktu tempuh dari stasiun paling dekat dengan kawasan Tunjungan, yaitu Stasiun Gubeng, hingga ke Stasiun Waru yang berada di seberang Terminal Bungurasih mencapai kurang lebih 50 menit!

Parahnya waktu tempuh di jalanan Surabaya tampaknya memaksa warga memilih menggunakan transportasi pribadi. Setiap tahun jumlah kendaraan bermotor, baik roda dua maupun roda empat, terus bertambah. Transportasi umum pun makin terpinggirkan. Jalanan semakin macet, dan waktu yang dihabiskan di jalanan juga bertambah lama.

Surabaya perlu moda transportasi umum yang baru dengan segera. Transportasi umum yang mampu menguraikan masalah kemacetan, mampu mengangkut penumpang secara massal, cepat, dan yang terpenting, murah. Transportasi ini harus bisa diakes oleh semua warga, dan mampu mengakses setiap sudut Surabaya. Akankah proyek trem Pemerintah Kota Surabaya mampu menjawab tersebut?

back to top