Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Anak culik bapak kandung, demi keinginan terpendam

Destina Kawanti, Kepala Sie Diseminasi Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Timur Destina Kawanti, Kepala Sie Diseminasi Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Timur
Surabaya – KoPi. Racun narkoba memang membuat orang gelap mata. Demi memenuhi candunya, seseorang rela melakukan apa pun, termausk tindakan paling nekad dan absurd. Salah satunya adalah menculik ayah kandung sendiri dan meminta tebusan kepada ibunya. Cerita mengesankan itu ditemui Destina Kawanti selama menjabat sebagai Kepala Sie Diseminasi Informasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Jawa Timur. 

 

Pada Koran Opini, Destina berkisah tentang Erwin, mantan pecandu yang kini menjadi konselor di Dinas Sosial. Erwin tergolong pecandu kelas “kakap”. Ia sudah 8 kali ditangkap, menjalani 8 kali rehabilitasi, dan sudah 4 kali masuk penjara. Ia juga pernah ditembak kakinya oleh polisi. Erwin sudah menjadi pemakai sejak usia 9 tahun dan berkecimpung selama 19 tahun di dunia narkoba. 

Begitu kuatnya cengkeraman narkoba membuat Erwin sampai tega menjual pacarnya. “Ketika ia butuh barang ia minta pacarnya untuk menyelamatkannya. Karena kalau tidak memberi uang ke bandar, nyawa Erwin taruhannya. Akhirnya pacarnya mau ditiduri bandarnya,” cerita Destina.

Bukan hanya pacarnya, Erwin juga bahkan pernah menjual tantenya sendiri. Ketika ia butuh uang lagi untuk beli narkoba, Erwin memanggil tantenya dengan alasannya minta diajari Bahasa Inggris. Ketika belajar di kamar, Erwin meninggalkan tantenya. Setelah ia pergi, bandarnya masuk kamar. Erwin mengaku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamar itu. Yang jelas ia bisa mendapat barang dari sang bandar.

“Yang paling parah ya cerita soal menculik ayah kandung sendiri itu. Ketika ayahnya keluar dari tol, Erwin mencegat mobilnya. Ayahnya dimasukkan karung, kemudian menelepon ibunya untuk minta tebusan,” ujar Destina sambil geleng-geleng kepala.

Untunglah, saat ini Erwin sudah sadar dan kembali ke jalan yang benar. Saat ini ia menjadi konselor dan sering memberi testimoni kepada pengguna narkoba. “Erwin ini baru mau sadar dan tobat setelah ia hampir mati. Sebagian besar pengguna memang baru sadar ketika sudah dekat dengan kematian,” tutur Destina.

Itu sebabnya Destina selalu mewanti-wanti remaja jangan sampai tergoda bujuk rayu narkoba. Awalnya narkoba memang melenakan, namun ujungnya seperti neraka. Tidak mudah keluar dari cengkeraman narkoba, karena nyawa yang jadi taruhannya.

Reporter: Amanullah Ginanjar Wicaksono

 

back to top