Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ada yang mendebarkan ketika launching buku “Merawat cinta mungil”

Ada yang mendebarkan ketika launching buku “Merawat cinta mungil”
Surabaya - KoPi | Menjadi seorang dokter anak ternyata tidak meredupkan keinginan kuatnya dalam dunia tulis menulis. Pekerjaannya sebagai seorang dokter tidak serta merta dinikmati hanya di balik tirai rumah sakit saja. Dokter cantik ini justru menikmati dunia kerjanya dengan menuliskannya dalam untaian kata.

Dr. Dini Adityarini Sp. A menuliskan setiap kejadian kecil di ruangan rumah sakit yang membuatnya tersentuh. Ia lantas merapikannya dalam sebuah buku yang berjudul “Merawat Cinta Mungil” atau MCM. Buku terbitan Proyeksi Indonesia tersebut di launching di d’Tekape Cafe pada Sabtu 15/8 kemarin.

Dalam launching tersebut, sempat muncul suasana mendebarkan. Bagaimana tidak, para ibu menggendong para buah hatinya menaiki tangga perlahan. Terlihat beberapa panita berusaha membantu. Seorang ibu menjelaskan kepada KoPi.

"Saya ingin sekali ikut acara ini, ingin bertemu dokter dini. Maka saya tempuh gimana caranya agar sampai sini".

Suasana penuh hangat menaungi acara peluncuran buku MCM. Para tamu yang hadir merupakan kerabat, pasien dan perempuan yang ingin belajar kepada dr. Dini.

Tatanan ruang  tempat duduk yang melingkar di setiap meja menjadikan talkshow tersebut lebih hangat. Bahkan dr. Dini yang berdiri sebagai pembicara  menyambangi para audiens yang bertanya, seolah pasien yang sedang berkonsultasi. Hal tersebut dilakukannya agar keluhan penanya dapat dipahami oleh audiens lainnya.

Dalam talkshow tersebut, dr. Dini juga menyiapkan sebuah light training mengenai flat niple dan tongue tie di mana hal itu merupakan permasalahan bagi kebanyakan para ibunda dalam memberikan ASI.

Menurut dr. Dini kedua permasalahan tersebut kerap dijadikan alasan beberapa orang untuk tidak menyusui bayi. “Kedua permasalah tersebut bisa dipecahkan dengan beberapa cara. Seperti peletakan posisi bayi yang benar, atau pemotongan tali lidah bayi agar bisa lebih mudah menyusui,” ujar dr. Dini dalam launching buku tersebut.

dr. Dini memiliki nama khusus ASI, yaitu adalah tetesan surga yang berasal dari seorang ibu. Baginya, anak yang diberi ASI akan tumbuh sebagai anak yang unik, cantik, cerdas dan indah.

Seperti yang dirasa oleh Nadya Wulan, model asal Surabaya ini pada akhirnya memilih memberikan ASI kepada sang cinta mungilnya.  “Anakku, Naluri, tidak seberat teman-temannya yang menggunakan susu formula. Tapi menurutku, ukuran sehat itu tidak bisa dikategorikan lewat berat badan. Melainkan kesehatan dan tumbuh kembangnya sang buah hati tersebut,” tutur Wulan yang merupakan salah satu pembicara di sela talkshow.

Sebelumnya, Wulan bercerita bahwa dirinya merupakan seorang ibu yang tidak bisa masak apapun selain mie instan. Namun, keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada si kecil tidak menyudutkan Wulan untuk memasak. “Berbekal buku yang aku baca mengenai makanan penunjang ASI (MPASI) akhirnya aku bisa masak buat si kecil,” ujarnya disertai sedikit tawa.

dr. Dini  menghadiahkan buku merawat cinta mungil kepada masyarakat Indonesia. Ia meyakinkan pada masyarakat bahwa ASI merupakan keindahan yang dimiliki oleh setiap ibu yang sepantasnya diberikan pada sang buah hati.

“Menyusui tidak tentang teknis saja, melainkan jiwa dan hatinya. Jika jiwa dan hati kita tersentuh saat menyusui, maka ASI akan mengalir secara lancar,” tutup dr Dini dalam acara tersebut.

Harapan terbesarnya dalam buku tersebut adalah keinginannya untuk dapat menstimulasi kesadaran perempuan, agar mereka memberikan yang terbaik kepada si mungil cintanya. |Labibah

back to top