Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

170 anak ROhingya mengungsi ke Indonesia

170 anak ROhingya mengungsi ke Indonesia
KoPi | Di antara ratusan pengungsi Rohingya ditampung Indonesia, sepertiganya adalah anak-anak. Dari angka tersebut 170 anak bepergian seorang diri, beberapa bahkan diculik atau diperdaya oleh jaringan perdagangan manusia.
 

AP menulis, para pemuda dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan terhadap tipu daya sindikat perdagangan manusia. Selama di Myanmar, etnis Rohingya menjadi kaum terpinggirkan, sehingga sulit mendapatkan pekerjaan. Karena itu, mereka mudah termakan bujuk rayu sindikat perdagangan manusia yang menjanjikan pekerjaan di luar negeri.

"Kerentanan yang ditunjukkan oleh anak-anak ini tidak pernah dapat diungkapkan. Sejak masih kecil, mereka sudah harus menghadapi ujian berat," ungkap Steve Hamilton, kepala misi International Organization fot Migration di Indonesia.

Para anak-anak tersebut harus menghadapi kesulitan di lautan seorang diri. Mereka berharap dapat menyusul orangtua atau kerabat mereka yang telah terlebih dulu mengungsi di luar negeri. Dengan membayar biaya sebesar kira-kira $ 100, mereka diangkut menggunakan kapal kecil melintasi Teluk Bengal.

Di dalam kapal tersebut mereka harus duduk berhimpitan. Kaki ditekuk sepanjang hari agar ada cukup ruang untuk pengungsi lain. Para anggota sindikat tersebut kerap menjejalkan sebanyak mungkin orang bisa meraup untung sebesar-besarnya, tanpa mempedulikan keselamatan para pengungsi.

Para pengungsi hanya diberi jatah makan beberapa sendok bubur dua kali sehari. Jika ingin tidur, mereka harus bersandar ke dada orang di belakang mereka. Jika mereka bergerak atau sekedar ingin meluruskan kaki,  mereka akan dihukum dan dipukuli.

Berdesak-desakan sepanjang hari, ditambah panas matahari di laut lepas dan muntahan akibat mabuk laut, menyebabkan penyakit muncul di antara mereka. Demam, diare, dan dehidrasi menjadi pengalaman umum para pengungsi tersebut.

"Kami diberi sedikit air dan makanan, dan kami berada di laut lepas untuk waktu lama. Kami tidak punya ayah atau ibu di kapal itu, jadi kami sangat ketakutan," ungkap Untas Begum, salah seorang pengungsi anak. Ibunya tewas pada kerusuhan di Rakhine 3 tahun lalu. Ia dan kakak lelakinya, Mohammad, berharap bisa menyusul ayahnya yang kini bekerja di Malaysia.

Lain lagi cerita Atau Rahman, bocah berusia 12 tahun asal Sittwe. Ia mengatakan dirinya dan sembilan anak lain ditarik oleh orang asing dan dijejalkan di dalam kapal. Mereka kemudian ditahan selama beberapa minggu di laut lepas hingga akhirnya kapal penuh penumpang.

"Saya tidak tahu apa yang terjadi. Kami ditaruh di dalam kapal dan diikat, lalu mulut kami disumpal agar tak bisa berteriak atau bicara," ujarnya. Atau kini berada di salah satu kamp pengungsian di Langsa, Aceh.

"Tragedi kemanusiaan ini terlalu kejam untuk anak-anak. Sedih sekali melihat mereka hanya memberi tatapan kosong. Itu menunjukkan bagaimana emosi mereka begitu terluka," kata Rudi Purnomo, relawan dari Act for Humanity.| AP

back to top