Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

“Sudah cukuplah Pak Jokowi dengan komunikasi atraktif”

“Sudah cukuplah Pak Jokowi dengan komunikasi atraktif”
Surabaya – KoPi | Pemerintah telah mencabut Perpres No 39 Tahun 2015 tentang Kenaikan Tunjangan Uang Muka Pembelian Mobil Pejabat Negara. Namun perpres tersebut menunjukkan buruknya manajemen komunikasi organisasi di Istana Negara.
 

Pengamat Komunikasi Politik Suko Widodo mengatakan peristiwa ini lahir karena Jokowi kurang mampu membagi tugas dengan bawahannya. Hingga menjelang 6 bulan pemerintahannya, Jokowi masih disibukkan oleh hiruk pikuk politik di luar istana. 

“Itu menunjukkan internal manajemen pemerintahan Jokowi ada mekanisme yang belum terbangun dengan baik. Jokowi terlalu banyak melakukan komunikasi eksternal dalam rangka konsolidasi politik, akibatnya kebijakan internal dibobol. Ini sungguh peristiwa yang memalukan bagi pemerintah karena menunjukkan tidak solidnya manajemen,” ungkap Suko.

Suko berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi Jokowi untuk lebih banyak berbagi peran dengan bawahannya. “Sudah cukuplah bagi Pak Jokowi dengan komunikasi atraktifnya. Sudah saatnya ia berbagi tugas agar ia bisa mendorong substansi pikiran-pikirannya pada jajaran pemerintahan di bawahnya,” pesan Suko.

Komunikasi atraktif yang dimaksud Suko adalah kebiasaan blusukan Jokowi. Menurutnya, pengambilan keputusan tidak perlu dilakukan dengan melihat langsung fakta di lapangan. “Kalau terus-terusan berada di lapangan, di mana tugas Dirjen dan Gubernur? Kalau harus terus menerus blusukan, artinya Jokowi gagal melakukan komunikasi dengan Gubernur, Dirjen, dan perangjkat lain,” tukas Suko.

back to top