Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Salim Said: ISIS bukan soal agama, tapi politik internasional

Salim Said: ISIS bukan soal agama, tapi politik internasional

KoPi| Dalam sebuah diskusi berjudul 'ISIS Mengancam Kita? di stasiun TVOne, 25 Maret 2015, pengamat militer Prof. Salim Said mengatakan bahwa persoalan ISIS sesungguhnya merupakan represatasi dari persoalan politik internasional dan bukan agama. Politik internasional yang melibatkan kepentingan Amerika Serikat, Israel dan negara-negara teluk serta Arab Saudi.

Jika dirunut dari awal ISIS merupakan perkembangan dari apa yang terjadi di masa perang Afghanistan yang melibatkan Rusia sebagai pendukung pemerintahan Afghan dan Amerika Serikat yang mendukung kelompok Mujahidin yang melawan pemerintah Afghanistan masa itu di paroh 1980-an.

Menurut Salim said, Afghanistan merupakan tempat pertama dimana Amerika Serikat mengumpulkan kalangan radikal Islam di seluruh dunia dan menjadikan mereka sebagai semacam Vietkong untuk melawan Rusia. Itu merupakan catatan penting pertama, katanya.

Hal ke dua yang harus dipahami adalah fakta bahwa ISIS merupakan perpecahan yang terjadi diantara para mujahidin suni eksrim melawan Basyar Arsad di Suriah dan melibatkan konsiprator di luar Suriah seperti Arab Saudi yang mendanai kaum suni dan Amerika Serikat dan CIA.

Akar ISIS menurut Salim adalah perpecahan Al qaeda yang menjadi radikal melawan syiah di Irak. akibat kesalahan Amerika Serikat mengangkat PM Nuri Al Maliki yang tidak mampu berbuat adil terhadap kalangan suni di Irak, terutama di Trikit.

Selain itu ada krisis otoritas keagamaan di kalangan Islam radikal, yaitu tidak adanya pemimpin Islam di antara kalangan Islam. Arab Saudi dianggap sebagai sekutu Amerika Serikat dan Syiah dianggap kaki tangan Teheran.
Situasi itu menyebabkan situasi chaos dan inilah yang menyebabkan munculnya ISIS dengan konsep khalifahnya yang didanai Arab Saudi.Di sisi lain ada pergerakan kalangan intelijen AS dan Israel yang mendorong kehancuran kekuatan Sadam Huesein dan kemudian menciptakan ISIS.

Itulah mengapa, simpul Salim, ISIS memiliki dana yang besar. Selain mereka mendapatkan dana dari Arab Saudi, ISIS juga mendapatkan rampasan perang berupa ladang minyak sekitar 300 sumber dan wilayah yang semakin membesarkan pundi-pundi dana mereka. Dan pertanyaanya adalah, mengapa ISIS bisa menjual minyaknya, sementara mereka dianggap sebagai teroris yang mengancam dunia? Demikian analisis Prof. Salim Said.| E Hermawan

back to top