Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Reshuffle bentuk kegagalan komunikasi Jokowi

Reshuffle bentuk kegagalan komunikasi Jokowi
Surabaya – KoPi | Belum genap satu tahun pemerintahan Jokowi, muncul isu rencana perombakan Kabinet Kerja Presiden Jokowi. Beberapa menteri diisukan akan diganti karena kinerja yang dianggap kurang optimal.

Menurut Dr. Ulul Albab, MS., dosen Administrasi Negara Universitas Dr. Soetomo Surabaya, reshuffle muncul karena menteri tidak memenuhi tiga syarat. Pertama ada menteri yang yang membangkang dan tidak menjalankan arahan presiden. Kedua, menteri dianggap tidak memiliki kompetensi. Dan ketiga adalah karena menteri tidak berhasil mencapai target.

“Salah satu dari tiga alasan tadi dapat menyebabkan presiden mereshuffle kabinetnya, sehingga tidak harus menunggu momentum khusus. Sebenarnya tidak butuh waktu yang lama untuk menilai kinerja seseorang. Bahkan satu bulan setelah pelantikan menteri, berhak saja di-reshuffle,” ujar Ulul.

Mantan Rektor Universitas Dr. Soetomo Surabaya ini menyatakan reshuffle adalah bentuk kegagalan menteri menjalankan Nawa Cita Presiden Jokowi. Komunikasi yang buruk antara Jokowi dengan para menteri membuat menteri terlalu fokus dengan program yang mereka usung sendiri.

“Seharusnya sebelum pelantikan para calon menteri dibekali pendalaman mengenai Nawa Cita. Tidak hanya diberi setumpuk tulisan untuk dipelajari, melainkan diberi penyampaian yang matang dan disamakan dengan visi para menteri. Selanjutnya kinerja mereka akan didasari nawa cita itu sendiri,” ujar Ulul.

Ulul menilai Jokowi belakangan ini kerap ‘cuek’ dengan menterinya. Tidak adanya konsolidasi membuat menteri bebas mengusung program semaunya sendiri.

“Kinerja menteri itu harus di bawah tekanan Jokowi. Jika dibebaskan begitu saja akan memunculkan kebijakan di atas kebijakan. Akhirnya tujuan utama Jokowi tidak dijalankan oleh para menterinya karena kerap berfokus pada program pribadi,” jelas Ulul.

“Mau reshuffle setiap hari, jika Jokowi tidak mengkomunikasikan Nawa Cita secara mendalam kepada calon menterinya, sama saja omong kosong. Komunikasi Jokowi dengan para pembantunya yang seharusnya diperbaiki,” sambungnya. | Labibah

back to top