Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Pilwali 2015, Risma, dan tunggangan bantengnya

Pilwali 2015, Risma, dan tunggangan bantengnya
Surabaya – KoPi | Lima tahun menjabat sebagai orang nomor satu di Surabaya Tri Rismaharini diyakini akan kembali maju pada pemilu walikota Surabaya 9 Desember mendatang. Namun, apakah PDI-P akan kembali mencalonkan sosok mereka yang usung pada pemilu walikota 2009 lalu?

Popularitas Risma menanjak sejak menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota dan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Surabaya. PDI-P sebagai salah satu parpol besar di Surabaya saat itu meyakini bahwa Risma menjadi magnet untuk memenangi pemilu 2009.

Namun, setelah menjabat menjadi walikota, komunikasi yang terjalin antar Risma dengan PDI-P terlihat buruk. Bahkan, beberapa kebijakan Risma bertentangan dengan kepentingan partai politik pengusungnya. Ketua Fraksi PDI-P DPRD Kota Surabaya Sukadar, pernah menyatakan bahwa Risma tidak memiliki sumbangsih pada intern partai itu sendiri.

Menurut Fahrul Muzaqqi, dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga, kehadiran Risma di PDIP bukan sebagai kader murni. Karena itu ikatan ideologinya naik turun dan tidak sebesar ikatan kader murni dari PDI-P. Hal itu pula yang menyebabkan beberapa kebijakan Risma bertentangan dengan keinginan partai.

Fahrul berpendapat masih ada 50% kemungkinan PDI-P akan kembali mencalonkan Risma sebagai pemimpin Surabaya. Namun ada juga kemungkinan lain, yaitu PDIP mencalonkan nama lain yang popularitasnya seimbang dengan Risma. “Saya kira Wisnu Sakti Buana yang akan menjadi kandidat PDI-P menggantikan Risma,” ujar Fahrul. | Labibah

back to top