Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pilwali 2015, Risma, dan tunggangan bantengnya

Pilwali 2015, Risma, dan tunggangan bantengnya
Surabaya – KoPi | Lima tahun menjabat sebagai orang nomor satu di Surabaya Tri Rismaharini diyakini akan kembali maju pada pemilu walikota Surabaya 9 Desember mendatang. Namun, apakah PDI-P akan kembali mencalonkan sosok mereka yang usung pada pemilu walikota 2009 lalu?

Popularitas Risma menanjak sejak menjabat sebagai Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota dan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan kota Surabaya. PDI-P sebagai salah satu parpol besar di Surabaya saat itu meyakini bahwa Risma menjadi magnet untuk memenangi pemilu 2009.

Namun, setelah menjabat menjadi walikota, komunikasi yang terjalin antar Risma dengan PDI-P terlihat buruk. Bahkan, beberapa kebijakan Risma bertentangan dengan kepentingan partai politik pengusungnya. Ketua Fraksi PDI-P DPRD Kota Surabaya Sukadar, pernah menyatakan bahwa Risma tidak memiliki sumbangsih pada intern partai itu sendiri.

Menurut Fahrul Muzaqqi, dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga, kehadiran Risma di PDIP bukan sebagai kader murni. Karena itu ikatan ideologinya naik turun dan tidak sebesar ikatan kader murni dari PDI-P. Hal itu pula yang menyebabkan beberapa kebijakan Risma bertentangan dengan keinginan partai.

Fahrul berpendapat masih ada 50% kemungkinan PDI-P akan kembali mencalonkan Risma sebagai pemimpin Surabaya. Namun ada juga kemungkinan lain, yaitu PDIP mencalonkan nama lain yang popularitasnya seimbang dengan Risma. “Saya kira Wisnu Sakti Buana yang akan menjadi kandidat PDI-P menggantikan Risma,” ujar Fahrul. | Labibah

back to top