Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Pemuda-pemuda yang masih gagap pilkada

Pemuda-pemuda yang masih gagap pilkada

Surabaya-KoPi| Pilkada tahun ini memang masih jadi hal yang baru bagi angkatan 1998 ke atas. Pasalnya, angkatan tersebut baru berkesempatan untuk turut menyuarakan suaranya pada pilkada serentak kali ini. Hal ini dirasa oleh salah satu peserta pilkada di Jambangan, Surabaya.
 

Fildzah, yang baru memiliki hak suara untuk memilih calon walikotanya ini masih gugup dalam memilih. “Pemilu kemarin masih belum bisa ikut. Jadi ini pertama kalinya ikut nyoblos. Sempet bingung pilih siapa, jadi tanya mamah. Hehe,”ujarnya kepada KoPi (9/12).

Sebelumnya, ia mengaku bahwa belum pernah mendapatkan ilmu mengenai pemilu baik dari keluarga,  LSM (Lembawa Swadaya Masyarakat) maupun sekolah. “Pernah sih dulu diajak temen buat ikut acara-aacara politik gitu. Tapi ndak tertarik, jadi ndak  ikut” tuturnya.

Siswa di salah satu sekolah swasta Surabaya ini mengaku masih belum mengetahui kandidat calon pemimpin kotanya. “Tau Bu Risma ya karena emang sudah menjabat sebagai walikota. Yang calon satunya paling dari baliho dan iklan di televisi saja,” ujarnya.

Menurut Fildzah, masih banyak kawan yang juga merasakan problem yang sama. Memilih karena mengikuti pilihan kelaurga. Bukan berdasarkan pilihan hati nuraninya.

Pengamat Politik, Faahrul Muzaqqi mengatakan bahwa kondisi seperti ini merupakan hal yang dapat dimaklumi. Menurutnya “Pemuda (Pemilih pemula) berpikir bahwa persoalan politik tidak berkaitan secara langsung dengan kehidupannya sehari-hari. bagaimanapun kesadaran politik tidak selalu muncul dengan mudah, perlu diasah, dirangsang hingga mereka paham,” ujarnya kepada KoPi.

Dosen politik Universitas Airlangga ini tetap menghimbau siituasi gagap politik yang terjadi, bukan berarti bisa dibiarkan lebih lama. “Politik itu menyangkut nasib banyak orang, sehingga hal-hal seperti ini tidak bisa diabaikan” ujarnya.

Fahrul juga mengatakan bahwa upaya pemerintah harus lebih bijaksana dalam mengemas peran pemuda ataupun pemilih pemula. Agar sosialisasi yang disampaikan lebih menarik dan menyelipkan substansi pentingnya partisipasi dalam pemilu.

back to top