Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Jokowi: Mental PNS harus diubah

humas.rokanhulukab.go.id humas.rokanhulukab.go.id

Jakarta-KoPi| Mentalitas Pegawai Negeri Sipil Indonesia (PNS) harus digeser dari "Mentalitas kaum ndoro menjadi mentalitas melayani. Demikian tulis Jokowi dalam akun FBnya (2/12). Pernyataan itu juga disampaikan saat menghadiri peringatan Korps Pegawai Negeri republik Indonesia (Korpri) ke 43 di Jakarta hari Senin, 1 Desember 2014.

Presiden RI ke 7 ini mengingatkan dari sudut sejarahnya bahwa PNS di masa lalu tak lepas dari bagaimana kekuasaan kolonial mengatur masyarakat. Di masa Hindia Belanda saat itu pegawai negeri disebut sebagai "Ambtenaren" mentalitas ambtenaren adalah mentalitas penguasa.
Ketika kita merdeka mentalitas itu tak serta merta hilang, kultur feodal tetap menjadi nyawa dari birokrasi kita. Rakyat dipandang sebagai objek dari penguasa, bukan sebagai "mereka yang seharusnya dilayani".

Mentalitas feodal itulah yang harus diubah, budaya birokrasi kita harus dibentuk menjadi budaya birokrasi egaliter. Pejabat-pejabat birokrasi harus tenggelam dalam irama kehidupan rakyat bukannya malah membangun kesenjangan. Ketika pejabat tenggelam dalam kehidupan rakyat, karakter yang dibangun pertama kali adalah "hidup sederhana".

Jangan kemudian pejabat menjadi contoh bagaimana kehidupan serba glamour, pejabat seperti raja-raja kecil, memamerkan kemewahan ditengah rakyat yang seharusnya dilayani. Eksistensi pegawai negeri haruslah diukur dari prestasi kerjanya dalam melayani rakyat, bukan dari seberapa banyak tamu diundang dalam pesta pernikahan anaknya.

Ukuran kebanggaan pegawai negeri adalah bagaimana melihat rakyat hidup lebih baik, bukan membanggakan "gendut-nya rekening" dari sabetan pendapatan ilegal proyek-proyek.

Hidup yang sederhana dengan rejeki yang halal, mengabdi sepenuhnya pada bangsa dan negara, melayani rakyat dengan kesungguhan hati, itulah kebanggaan sejati Pegawai Negeri, itulah sesungguh-sungguhnya kehormatan kemanusiaan dari Pegawai Negeri Republik Indonesia.

back to top