Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Ini kata Jokowi tentang kekerasan Tolikara yang jadi perhatian

Ini kata Jokowi tentang kekerasan Tolikara yang jadi perhatian

Jakarta-KoPi | Jokowi, presiden RI, memberikan pernyataan penting terhadap kasus kekerasan yang dilakukan oleh kelompok radikal terhadap muslim di Tolikora, Papua.

Melalui akun resmi facebooknya, Jokowi menyatakan bahwa dirinya mengutuk kekerasan di Tolikara.

"Saya mengutuk keras pembakaran dan tindak kekerasan di Tolikara tersebut " tulis Presiden Jokowi pada Hari Minggu (19/7/15).

Presiden Jokowi menjamin bahwa hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya. Penegakan hukum tersebut untuk para pelaku kriminal kekerasan tersebut sekaligus pihak-pihak yang menjadi dalang kekerasan.

"Saya jamin, hukum akan ditegakkan setegak-tegaknya, bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan tetapi juga semua pihak yang tersebukti mencederai kedamaian di Papua."

Novri Susan, sosiolog pakar pengelolaan konflik, melihat penanganan kekerasan di Tolikora kurang sigap dan terlihat banyak kepentingan yang tidak bisa dikontrol negara.

"Intervensi konflik di Tolikara tampak tertatih, kurang cepat."

Novri memberi peringatan bahwa kasus ini sensitif terhadap mobilisasi identitas kolektif yang bisa dimainkan oleh kepentingan-kepentingan sempit. Menurut sosiolog penulis buku best seller Sosiologi Konflik ini, masyarakat (Islam, red) harus belajar menyerahkan penanganan konflik sosial kepada negara.

"Yang harus dilakukan bukanlah memobilisasi diri dan membuka peluang perang sipil, akan tetapi lakukan kontrol terhadap negara dalam penanganan konflik serta penegakan hukum secara melekat dan tegas. Walaupun kita lihat negara masih belum cukup cepat," pungkas Novri. | A. Nur

back to top