Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Dosen berpolitik, merendahkan kampusnya

foto: www.abcgallery.com foto: www.abcgallery.com

KoPi-Yogyarkata. Mendekati hari pencobolosan kandidat presiden pada 9 Juli, suasana makin panas dan riuh oleh kampanye. Berbagai kelompok masyarakat memperlihatkan dukungan dan kampanye melalui media sosial. Pada keriuhan tersebut, sebagian dosen pun ikut riuh berkontestasi. Dosen menjadi bagian dari mesin politik salah satu kandidat tanpa keluar dari statusnya sebagai akademisi kampus.

Beberapa hari lalu akhir bulan Juni ini muncul surat terbuka dari anak Amien Rais, mantan ketua MPR dan dosen HI (Hubungan Internasional) UGM, ditujukan kepada Joko Widodo. Setelah itu ada balasan dari dosen UIN Sunan Ampel yang sedang studi di Australia menjawab surat anak Amien Rais. Kini muncul lagi surat terbuka dari seorang dosen dari Universitas Airlangga kepada Prabowo Subianto, salah satu kandidat capres 2014.

Kemasan dan gaya bahasa surat terbuka tersebut berbeda-beda namun intinya dua saja. Pertama memuji kandidat capres yang didukung, dan kedua memojokkan kandidat capres yang tidak didukung.

Pakar sosiologi politik dari Universitas Airlangga, Novri Susan, sangat menyayangkan model keterlibatan dosen atau akademisi sosial kampus dalam kontestasi politik 2014 ini. Keterlibatan akademisi sosial semestinya mencerdaskan masyarakat.

"Tugas akademisi bukanlah ikut ambil bagian sebagai mesin politik dari kepentingan capres tertentu. Sebab tugas mereka tidak berpolitik praktis. Akademisi sosial dalam kampus, harusnya lebih mengupayakan terbangunnya nalar politik rakyat yang cerdas dan demokratis".

Menurut pakar konflik politik ini, posisi akademisi pada konteks demokrasi bukan netral dan juga bukan partisan politik dengan membela salah satu kontestan politik. Namun akademisi sosial harus berpihak pada nilai seperti anti kekerasan, keadilan, dan kritis pada kekuasaan.

"Jika akademisi sosial (dosen, red.) ikut masuk kedalam salah satu mesin politik kandidat capres, sebaiknya keluar dari kampus dahulu. Jangan merendahkan kampus di level politis".*

 

Reporter: Winda Efanur Fs

 

 

back to top