Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Buya Syafii: Jangan sampai Pilkada DKI Jakarta terjadi di wilayah lain

syafiii2

Jogja-KoPi| Buya Syafii Arif berharap agar kejadian Pilkada di Jakarta kemarin tidak sampai menular ke daerah lainnya pada Pilkada 2018.

Menurutnya, Pilkada di Jakarta kemarin penuh akan kesenjangan sosial serta ketimpangan sosial akibat ujaran provokatif yang bersifat membenci dan saling menjatuhkan. Ia mengatakan beberapa daerah rawan kemungkinan terjadi pengulangan kejadian seperti di pilkada DKI Jakarta.

"Virus jahatnya ini yang pling kita cemaskan. Paling rentan dan rawan itu Jawa Barat, mudah-mudahan orang sunda tidak terkena dampak dari Pilkada DKI Jakarta kemarin,"ujar Buya Syafii usai diskusi 'Mengatasi Kesenjangan Sosial di Indonesia' dengan organisasi Indonesia Tionghoa (INTI) dengan jalur kultural Muhammadiyah dan NU ,di West lake Resto, Rabu (3/1).

Buya yang bernamakan lengkap, Ahmad Syafii Maarif, belum bisa mengatakan secara pasti lokasi rawan terjadinya ujaran atau pelintiran kebencian pada Pilkada. Namun ia memastikan ada beberapa lokasi dengan indikasi-indikasi yang mengarah ke masalah tersebut

"Ada indikasi dari survei yang menyebutkan seperti di Pantai Timur Sumatera dan Jawa barat,"imbuhnya.

Alissa Qotrunnada Wahid, Koordinator Gusdurian melengkapi keterangan Buya ,bahwa daerah rawan hasil pemetaan narasi Gusdurian secara online terdapat tiga daerah di Indonesia yang rawan untuk terjadinya pelintiran dan ujaran kebencian. Wilayah-wilayah rawan ini dibagi menjadi tiga warna tergantung dari tingkat tinggi ujaran kebenciannya.

"Kami tangkap dari arus pembicaraan online yang merah membara dan sentimen hate speehnya (ujaran kebencian )tinggi jawa barat,kedua wilayah pantai timur sumatra mulai lampung,riau keatas. Karena ada etnis dan suku ada tapi dikaitkan dengan agama. Sementara Kalimantan barat (pontianak), Makasar atau sulawesi selatan berwarna jingga,'jelas Putri pertama Mantan Presiden Abdurahman Wahid 'Gus Dur' ini.

Lanjutnya,Jawa Timur di bagian Pasuruan serta Jawa tengah aman berwarna Hijau.

Allisa mengatakan media sosial yang paling rawan saat ini, pertama adalah Twitter ,kedua Facebook. Sementara usia masyarakat yang paling rawan terpapar ujaran kebencian adalah anak muda.

"Usia yg rawan adalah anak muda. Makin muda,makin gampang dihasut. Mereka melihat orang jadi musuh karena anak muda yang paling banyak mengakses dunia maya,"

Kembali ke Buya, Ia pun berharap nantinya masyarakat lebih kritis lagi dalam menyambut Pilkada. Pada isu money Politic, ia pun menghimbau agar kita tak ikuti arahan seseorang baik itu saat memilih pemimpin atau mengikuti orang-orang yang menyebarkan ujaran kebencian.


"Tapi persoalan kita saat ini adalah uang dan money politic, ini penyakit menjalar di masyarakat dan ini penyakit demokrasi kita. Jadi lebih baik saya seperti ini,terima uangnya namun jangan ikuti arahannya," tutup Buya.|Syidiq Syaiful Ardli

back to top