Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Balada Pilkada Surabaya, penuh konspirasi dan drama

Balada Pilkada Surabaya, penuh konspirasi dan drama
Surabaya - KoPi | Tak ada lelahnya drama yang melingkupi Pilkada Surabaya. Setelah sebelumnya masyarakat Surabaya lega karena Pilkada Surabaya tak jadi ditunda, kini mereka kembali cemas lantaran pasangan Rasiyo-Dhimam Abror Djuraid dicoret oleh KPU. Pasangan penantang calon petahana Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana ini dicoret lantaran berkas-berkas mereka dianggap tidak memenuhi syarat.
 

Dicoretnya pasangan Rasiyo-Dhimam ini kembali memunculkan anggapan bahwa memang ada upaya menjegal Pilkada Surabaya. Indikasi itu muncul sejak masa pendaftaran bakal calon walikota gelombang pertama. Partai-partai yang tergabung dalam Koalisi Majapahit berupaya menyeleksi kandidat yang dianggap mampu menantang Risma-Whisnu. Namun hingga menjelang masa pendaftaran, tak ada calon yang cocok. Bahkan, Koalisi Majapahit justru pecah karena beberapa partai anggotanya berbeda pendapat soal pengajuan calon.

Saat pendaftaran bakal calon walikota, drama berikutnya kembali terjadi. PAN dan Demokrat akhirnya mengusung Dhimam Abror-Haries Purwoko sebagai bakal calon walikota-wakil walikota Surabaya. Namun, saat proses pendaftaran, mendadak Haries ijin ke toilet dan kabur dari kantor KPU Surabaya.

KPU Surabaya akhirnya memperpanjang masa pendaftaran bakal calon walikota-wakil walikota Surabaya, namun tetap tak ada yang mendaftar. KPU kembali melakukan perpanjangan pendaftaran. Kali ini Partai Demokrat dan PAN kembali mengusung calon, yaitu Rasiyo-Dhimam Abror. Namun dalam proses pendaftaran ada sedikit ketegangan. Surat rekomendasi untuk Dhimam hanya berupa fotokopi hasil scan. Saat itu, KPU Surabaya memutuskan menerima berkas-berkas Rasiyo-Dhimam. Namun KPU Surabaya tetap meminta keduanya melengkapi berkas yang masih kurang, terutama surat rekomendasi asli dengan tanda tangan basah.

Belakangan, surat rekomendasi asli untuk Dhimam malah hilang dibawa kabur orang dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Sejak saat itu, aroma penjegalan Pilkada Surabaya semakin kentara. 

KPU Surabaya tiba-tiba membuat peraturan bahwa dokumen hasil scan yang dikirim sebelumnya harus identik dalam segala hal yang dikirim belakangan. Padahal DPP PAN sudah menyatakan menerbitkan rekomendasi baru karena rekomendasi awal telah hilang, sehingga tak mungkin identik. Akibatnya, KPU mencoret nama Rasiyo-Dhimam, dan keduanya tak mungkin lagi mengajukan diri sebagai calon walikota atau wakil walikota.

Hilangnya surat rekomendasi pertama tersebut memantik berbagai kecurigaan. Ada yang beranggapan bahwa surat tersebut sengaja disembunyikan dan jadi barang dagangan di pasar gelap. Surat sangat penting tersebut dilelang dengan harga sangat mahal.

Ada pula anggapan dijegalnya Rasiyo-Dhimam ini juga merupakan upaya menjegal Risma-Whisnu. Tujuannya, Pilkada Surabaya ditunda hingga 2017 dan pasangan Risma-Whisnu kehilangan momentum.

back to top