Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Ada faksi-faksi di tubuh Polri

Ada faksi-faksi di tubuh Polri
Surabaya – KoPi | Adanya faksi-faksi di dalam tubuh Kepolisian diakui oleh mantan Wakapolri Oegroseno. Ketika Budi Gunawan diajukan sebagai calon Kapolri oleh Jokowi, beberapa pihak di Kepolisian sendiri sebenarnya tidak setuju. Oegroseno mengatakan, pencalonan BG tersebut tidak melalui mekanisme yang sesuai.
 

“Penunjukan BG sebagai calon Kapolri itu sebenarnya oleh Menkopolhukam. Padahal seharusnya penunjukan calon Kapolri haruslah anggota Polri yang memenuhi syarat. Makanya belakangan (penunjukan tersebut) jadi masalah,” ungkap Oegroseno dalam Diskusi Publik Berantas Korupsi atau Mati di FISIP Universitas Airlangga (19/3).

Oegroseno menyalahkan kisruh antara Polri dan KPK ini diakibatkan oleh keputusan Menkopolhukam yang mengajukan nama BG pada Jokowi. Namun Jokowi juga salah karena ia tetap menunjuk BG yang sudah digarismerah oleh KPK. Jokowi hanya mendengar pertimbangan dari Kompolnas, namun mengabaikan peringatan dari KPK.

Kasus BG jadi pemersatu Polri

Sementara advokat Tri Mulya menyatakan konflik antara Polri dengan KPK ini menunjukkan bahwa KPK juga bertindak arogan dalam menetapkan BG sebagai tersangka. Akibatnya pihak Kepolisian yang awalnya juga tidak setuju dengan penunjukan BG serta merta bersatu dan menyudutkan KPK.

“Ketika menetapkan BG sebagai tersangka, mengapa harus Abraham Samad yang muncul di TV? Dengan gaya yang cengengesan pula. Polri ya akhirnya tidak terima rekan mereka diperlakukan seperti itu, jadi mereka bersatu.,” ungkap Tri Mulya yang pernah menjadi tim kuasa hukum untuk Bibit Samad Rianto dan Candra Hamzah ini.

Meski demikian, ia juga berpendapat kriminalisasi KPK oleh Polri sangat keliru. Ia tidak setuju dengan pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mengatakan tidak ada tindakan kriminalisasi. Kriminalisasi terhadap KPK memang ada. 

Itu terlihat dari bagaimana polisi menangani pelaporan terhadap KPK. Meskipun disebut menerima pengaduan dari masyarakat mengenai tindak kriminal, perbedaan perlakuan sungguh terlihat dari kecepatan penanganan kasus. Jika menyangkut kepentingan polisi, penanganan perkara bisa dilakukan dengan cepat. Namun kasus lain, bisa sangat lama dan tidak jalan.

“Contohnya saja kasus penyelundupan satwa di KBS. Padahal sudah 1 tahun sejak kasus tersebut dilaporkan, namun sampai sekarang tidak kunjung ada penetapan tersangka,” ujarnya dengan kesal.

back to top