Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

www.tntmagazine.in www.tntmagazine.in

Yogyakarta-KoPi| Persoalan pangan dalam negeri terus menjadi sorotan penting. Terlebih pada sektor beras. Pasalnya makanan pokok asal padi ini menjadi barometer ketahanan pangan nasional. Menurut dari data publikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Selasa (5/8). Selama tiga bulan terakhir, impor beras terus menglami peningkatan. Lihat tabel.

Data Impor Beras

Bulan

Jumlah
(Ton)

Biaya
(US$)

April 31.145 13,5 juta
Mei 34.796 13,5 juta
Juni 49.539 22,3 juta

Aktivitas impor ini terus digalakkan oleh pemerintah guna menutupi kebutuhan pangan nasional. Hal serupa juga disampaikan oleh dosen IPB (Institut Pertanian Bogor), Prof. Andre santosa bahwa produksi beras nasional hanya sekitar 40 juta ton beras, hal itu belum memenuhi kebutuhan nasional.

“Alasan itulah kita mengimpor beras. Walaupun dengan produksi 40 juta ton sudah tinggi itu belum cukup. Kita memang menggalakan pertumbuhan pertanian, dengan budidaya pertanian, memang manampakan hasilnya, tapi itu belum cukup”, kata Andrea.

Faktor merosotnya produktiviatas pertanian juga turut menjadi alasan Indonesia mengimpor beras. Sekalipun di sisi lain masih kurang, namun Andrea tetap mengunggulkan produtivitas padi Indoensia paling bagus se-ASEAN.

“Produktivitas pertanian Indonesia paling baik di Negara-negara ASEAN. Rata-rata Indonesia panen 5,1/ Ha, Thailand rata-rata 3,5/Ha dan Vietnam rata-rata 4,9/ Ha, dan Filipina 2,5/Ha.  Terbaik tapi tetap harus impor. Nah, gimana coba?  [ Winda Efanur FS]

Baca:

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda
Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan
Siap swasembada beras, ini syaratnya
Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

back to top