Menu
Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Prev Next

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

www.tntmagazine.in www.tntmagazine.in

Yogyakarta-KoPi| Persoalan pangan dalam negeri terus menjadi sorotan penting. Terlebih pada sektor beras. Pasalnya makanan pokok asal padi ini menjadi barometer ketahanan pangan nasional. Menurut dari data publikasi oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, Selasa (5/8). Selama tiga bulan terakhir, impor beras terus menglami peningkatan. Lihat tabel.

Data Impor Beras

Bulan

Jumlah
(Ton)

Biaya
(US$)

April 31.145 13,5 juta
Mei 34.796 13,5 juta
Juni 49.539 22,3 juta

Aktivitas impor ini terus digalakkan oleh pemerintah guna menutupi kebutuhan pangan nasional. Hal serupa juga disampaikan oleh dosen IPB (Institut Pertanian Bogor), Prof. Andre santosa bahwa produksi beras nasional hanya sekitar 40 juta ton beras, hal itu belum memenuhi kebutuhan nasional.

“Alasan itulah kita mengimpor beras. Walaupun dengan produksi 40 juta ton sudah tinggi itu belum cukup. Kita memang menggalakan pertumbuhan pertanian, dengan budidaya pertanian, memang manampakan hasilnya, tapi itu belum cukup”, kata Andrea.

Faktor merosotnya produktiviatas pertanian juga turut menjadi alasan Indonesia mengimpor beras. Sekalipun di sisi lain masih kurang, namun Andrea tetap mengunggulkan produtivitas padi Indoensia paling bagus se-ASEAN.

“Produktivitas pertanian Indonesia paling baik di Negara-negara ASEAN. Rata-rata Indonesia panen 5,1/ Ha, Thailand rata-rata 3,5/Ha dan Vietnam rata-rata 4,9/ Ha, dan Filipina 2,5/Ha.  Terbaik tapi tetap harus impor. Nah, gimana coba?  [ Winda Efanur FS]

Baca:

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda
Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan
Siap swasembada beras, ini syaratnya
Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

back to top