Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Sukadi tidak ingin menjual sawah

Sukadi tidak ingin menjual sawah
“Kalau di sini itu petaninya 5 % saja tidak sampai. Sekarang yang nanem (bertani) tidak ada karena tanah sudah dipenuhi bangunan. Padahal tahun 90an semua orang menjadi petani,”

Sleman-KoPi- Demikian kata Sukadi Hartono, salah seorang petani yang masih tersisa di Sleman kepada Koranopini.com ketika menjawab pertanyaan berapa banyak jumlah petani di sekitar kawasannya. (baca: Di Sleman, sawah mulai tumbuh pabrik)

Menurut petani asal Jatirejo, Sendangdadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta ini, banyak orang sudah tidak ingin menjadi petani lagi. Mereka beranggapan menjadi petani sudah tidak lagi menjanjikan secara ekonomi dan terlihat kasar. Mereka bahkan lebih baik menjual lahan sawahnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Kasus memilukan para petani ini dibenarkan oleh Ketua Joglo Tani Yogyakarta, T.O Suprapto. Pria yang sekaligus tercatat sebagai Koordinator Umum Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu Indonsia ( IPPHTI ) ini  mengatakan, bahwa petani Indonesia mengalami banyak tekanan selain ekonomi, tekanan sosial turut memupus harapan orang menjadi petani.

“Status petani di Indonesia kastanya dianggap paling rendah dan out put pertanian tidak menjanjikan. Banyak pemuda di desa mereka lebih menjadi tenaga kerja asing, atau kerja di kota menjadi kuli daripada mengembangkan pertanian di desanya," ujar T.O Suprapto.

Namun di balik pandangan profesi petani yang dianggap tidak menjanjikan, Sukadi justru tetap optimis dan berpandangan luas. Sukadi yang sedari kecil bersahabat dengan sawah membuktikan kecintaannya kepada keluarga melalui pertanian.

“Jadi petani memang pendapatan kurang, kalau orang yang tidak mikir ke depan, sudah jual sawah. Tapi saya tidak, saya masih mikir kalau tanah di jual besok anak mau tinggal dimana? Sebagai orang tua ngenes kalau anak sampai ngrontak nantinya”, tutur Sukadi.

Reporter: Winda Efanur Fs

back to top