Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Petani berharap,tapi pesimis

kopi kopi

Hadirnya UU Perlintan No 19 tahun 2013 harusnya memberikan angin segar bagi petani. Sayangnya, ketidakjelasan pemda-pemda di Indonesia meruntuhkan optimisme para petani. 

KoPi| Gus Amin, pendiri Asosiasi petani Nusantara (Astanu), misalnya, adalah sosok yang pesimis terhadap peningkatan mutu petani, meskipun saat ini ada UU Perlintan No 19 Th 2013.

"Sebelum sampeyan datang ke rumah, saya tadi ke Dinas Pertanian menanyakan soal itu. Mereka ga ada yang tahu. Saya jadi merasa, apa kita ini punya negara." Katanya masgul.

Menurut Gus Amin, petani punya masalah sejak dulu yang sulit dipecahkan hingga saat ini. Masalah itu seolah didesain agar petani tak berdaya dan menuruti satu kekuatan yang mengerdilkan petani.

“Petani masih dijerat masalah, adanya mafia pupuk, mafia benih, mafia obat-obatan juga pasar. Pasar itu penting kalau petani panen seringkali bingung jualnya, harga sering turun”, kata Gus Amin.

Saat diungkapkan manfaat UU Perlintan No 19 tersebut, Gus Amin hanya tertawa dan menanggapi datar bahwa semua mungkin baik-baik saja tetapi kalau tidak direalisasikan percuma. Belum lagi saat ini juga sudah sulit menyatukan para petani. Mereka banyak yang sudah berpikir untuk untungnya sendiri.

Namun, pada prinsipnya, Gus Amin mengatkan berharap banyak dengan Undang-Undang perlintan No 19 Th 2013 ini. Meskipun tetap pesimis undang-undang bisa direalisasikan oleh pemerintah dan pemda.

Menanggapi hal tersebut ketua Joglo tani, T.O Suprapto mengatakan sebenarnya ada niatan baik dari UU Perlintan No 19 Tahun 2013. 

“Undang- undang ini dibuat berdasarkan kejadian yang dirasa ada yang tidak bisa balance di situ (pertanian). Kelahiran undang-undang yang sudah disepakati, tahapannya mesti ada sosialisasi, karena masyarakat yang merasa ketidakadilan bisa menuntut, kalau tidak ada sosialisasi”, jelas T.O

T.O Suprapto mencium ketidak beresan dalam hal sosialisasi. Seperti di Yogyakarta sudah ada perda yang mengawal namun saja pelaksanaan belum terjadi.

“Kalau serius dengan undang-undang ini, harus ada sosialisasi yang terlibat stake holder. Dari pemerintah pusat, daerah sampai grass root. Semua pihak harus bekerja sama dengan media cetak dan elektronik”, lanjut T.O.

 

back to top