Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan
Meskipun tanah pertanian kita luas dan subur, tetapi banyak petani kita hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah juga melakukan banyak impor yang menunjukkan kekurangan pasokan pangan dalam negeri. Atau ada desain konspiratif? 

Yogyakarta-KoPi| “ Kita mulai swasembada pangan tahun 1984. Selama kurun waktu 3-5 tahun ke depannya kita aktif berswasembada pangan. Nah habis itu kita drop. Setelah itu kita aktif mengimpor, tahun kemarin saja kita impor beras sekitar 12 jta ton”, kata salah seorang petani varietas lokal, Gati Andoko.

Gati Andoko, mantan Dosen Antropologi yang kini bergelut di dunia pertanian menyayangkan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Menurutnya mata rantai impor beras Indonesia tidak terlepas dari aspek historis politik masa lalu. 

“Apalagi jaman Orde Baru- kita nanem bulir padi yang asli aja sudah diklaim PKI, dianggap melawan pemerintah. Sebenarnya Kalau nggak salah, tahun 1969 dari CSR Ford Foundation ada program. Program itu menyebar ketiga Negara yakni Thailand untuk mengembangkan teknologi pertanian dan pertanian itu sendiri. Filipina untuk masalah bibit dan Indonesia untuk meneliti masalah hama. Makanya dari konsensus itulah Indonesia kelimpungan mau nanem apa? Nah semua bibit asli Indonesia ditarik untuk penelitian, kita fokus meneliti hama”, papar Gati.

Namun Prof. Andrea Santosa dari IPB masih meragukan adanya relasi antara CSR Ford Foundation dengan pertanian Indonesia. 

“Itu nggak demikian memang untuk benih padi itu Filipina ada IRRI lembaga internasional yang menghasilkan padi IR 64 yang booming di Indonesia. Bukan berarti mereka fokus ke perkembangan benih nggak juga. Dan Indonesia fokus pengembangan hama , ya no tidak juga. Suka tidak suka perkembangan pertanian Thailand cepat. Tapi varietas unggul Indoensia ada ciherang, inpari karya peneliti Indonesia sendiri”, jelasnya.

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

 

 

 

 

back to top