Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan
Meskipun tanah pertanian kita luas dan subur, tetapi banyak petani kita hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah juga melakukan banyak impor yang menunjukkan kekurangan pasokan pangan dalam negeri. Atau ada desain konspiratif? 

Yogyakarta-KoPi| “ Kita mulai swasembada pangan tahun 1984. Selama kurun waktu 3-5 tahun ke depannya kita aktif berswasembada pangan. Nah habis itu kita drop. Setelah itu kita aktif mengimpor, tahun kemarin saja kita impor beras sekitar 12 jta ton”, kata salah seorang petani varietas lokal, Gati Andoko.

Gati Andoko, mantan Dosen Antropologi yang kini bergelut di dunia pertanian menyayangkan kondisi pertanian Indonesia saat ini. Menurutnya mata rantai impor beras Indonesia tidak terlepas dari aspek historis politik masa lalu. 

“Apalagi jaman Orde Baru- kita nanem bulir padi yang asli aja sudah diklaim PKI, dianggap melawan pemerintah. Sebenarnya Kalau nggak salah, tahun 1969 dari CSR Ford Foundation ada program. Program itu menyebar ketiga Negara yakni Thailand untuk mengembangkan teknologi pertanian dan pertanian itu sendiri. Filipina untuk masalah bibit dan Indonesia untuk meneliti masalah hama. Makanya dari konsensus itulah Indonesia kelimpungan mau nanem apa? Nah semua bibit asli Indonesia ditarik untuk penelitian, kita fokus meneliti hama”, papar Gati.

Namun Prof. Andrea Santosa dari IPB masih meragukan adanya relasi antara CSR Ford Foundation dengan pertanian Indonesia. 

“Itu nggak demikian memang untuk benih padi itu Filipina ada IRRI lembaga internasional yang menghasilkan padi IR 64 yang booming di Indonesia. Bukan berarti mereka fokus ke perkembangan benih nggak juga. Dan Indonesia fokus pengembangan hama , ya no tidak juga. Suka tidak suka perkembangan pertanian Thailand cepat. Tapi varietas unggul Indoensia ada ciherang, inpari karya peneliti Indonesia sendiri”, jelasnya.

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

 

 

 

 

back to top