Menu
RUU Permusikan dan Kebrutalan Spirit Kapitalisme

RUU Permusikan dan Kebrutalan Spiri…

Anang Hermansyah, anggota...

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Perda Trantibmumlinmas

Gubernur dan DPRD Jatim Setujui Per…

Surabaya-KoPi| Gubernur J...

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Indonesia Kian Hari Kian Memprihatinkan

Dosen Ekonomi UMY Sebut Ekonomi Ind…

Bantul-KoPi| Di dalam eko...

Masih Banyak Kekeliruan Informasi Dalam Sikapi Bencana

Masih Banyak Kekeliruan Informasi D…

Bantul-KoPi| Bencana alam...

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang Olahraga ke UGM

Kemenpora Serahkan Hibah Gelanggang…

Jogja-KoPi| Kementerian P...

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan Baru

FKH UGM Luluskan 172 Dokter Hewan B…

Jogja-KoPi| Fakultas Kedo...

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Bekas Untuk Tingkatkan Mutu Jalan Rel Kereta Api di Indonesia

Inovasi Gabungan Aspal dan Karet Be…

Bantul-KoPi| Mengacu dari...

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancangan Mahasiswa UGM Raih Penghargaan di Seoul

Sepatu untuk Pasien Lumpuh Rancanga…

Jogja-KoPi| Sepatu buatan...

Konsekuensi Pembangunan Infrastruktur

Konsekuensi Pembangunan Infrastrukt…

Oleh: Novri Susan (Sosiol...

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Prev Next

Lumbung Mataraman hasilkan 15 juta per bulan

Lumbung Mataraman hasilkan 15 juta per bulan
Dengan lahan hanya 500 meter persegi, Joglo Tani mampu menghasilkan Rp. 15 juta setiap bulan. Berminat mengikuti?

Sleman-KoPi- Mayoritas sistem pertanian Indonesia menggunkan sistem anorganik. Dominan memakai pupuk dan pestisida berbahan kimia. Tanpa disadari residu dari penggunan obat berbahan kimia sejatinya membahayakan diri petani maupun tumbuhan sendiri. Berangkat dari hal itu salah seorang petani Dusun Mandungan, Margoluwih, Sayegan, Sleman, T.O Suprapto dan Sunarno mendirikan Joglo Tani.

Joglo Tani yang berada di ini dideklarasikan sebagai hari kebangkitan petani Indonesia. Dengan visi kemerdekaan dan misi kemandirian, diharapkan para petani bisa hidup makmur dan hidup sejahtera.

Menurutnya, untuk mencapai kesejahteraan itu petani harus cerdas dalam memanfaatkan lahan sempit, dengan cara menggunakan sistem multikultur yang sedang ia terapkan. Sistem multikultur ini manmefaatkan setiap lahan yang ada menjadi lahan produktif dan menghasilkan.

Petani yang mantan guru olahraga ini membanting setir untuk lebih fokus didunia pertanian. Dan ditahun 2005, TO Suprapto bersama rekan-rekannya membentuk sebuah Ikatan Penyuluh Pengendali Hama Tanaman Indonesia (IPPHTI), yang kemudian ditahun  2008 berubah menjadi Joglo Tani.

“Oyot-oyotan, kekayotan, gegogongan, kekembangan, gegedangan adalah bagian dari tanaman yang dapat dimanfaatkan”. Ungkap TO Suprapto kepada wartawan Koranopini.com, 24/09/2014.

Seluruh bagian pohon seperti akar-akaran, batang-batangan, daun-daunan, buah-buahan dan bunga-bungaan, dapat dimanfaatkan oleh para petani. Selain itu memaksimalkan lahan menjadi lahan peternakan pun bisa dilakukannya, seperti beberapa macam ikan, dan berbagai jenis unggas seperti itik dan ayam. Sehingga dengan konsep tersebut, petani akan bisa hidup secara berkala, baik harian, mingguan, bulanan, 2 bulanan, 3 bulanan, 4 bulanan, dan 6 bulanan.

“Dan saya sudah membuktikannya secara langsung, dan hasilnya sungguh fantastis. Dengan lahan 500 meter, saya dapat menghasilkan uang sebesar 15 juta per bulan. Dan ini real”. Ujar TO Suprapto sembari menunjukkan lahannya.

Pengolahan lahan ini disebutnya sebagai sebagai lumbung mataraman, karena pernah diterapkan oleh petani dimasa kerajaan mataram. Dan menurutnya lumbung mataraman ini bisa menjadi pertahanan pangan rakyat Indonesia, dan kebangkitan petani menjadi lebih mandiri dan merdeka.

Reporter: Haerul Mustakim

back to top