Menu
Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku Pembancokan

Polresta Yogyakarta Bekuk 2 Pelaku …

Jogja-KoPi| Sat Reskrim P...

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu Evakuasi Korban Bencana di Sulteng

Brimob Polri Bahu Membahu Membantu …

Sulawesi Tengah-KoPi|&nbs...

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar Tiban karya Anne Avantie

Fatma Saifullah Yusuf Kagumi Pasar …

Surabaya-KoPi| Ketua Umum...

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi dalam Tantangan Kemajuan Ekonomi Digital

Pacu Generasi Muda Ciptakan Inovasi…

Jogja-KoPi| Fakultas Ekon...

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mulai Makan Korban

Awas, Hati-Hati, Kredit Online Mula…

Jogja-KoPi| Lembaga Konsu...

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Thailand

Dosen Muda UMY Ukir Prestasi di Tha…

Bantul-KoPi| Universitas ...

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo Serukan Damai dan Berbudaya di Ranah Maya

Diskusi Netizen Jogja: Menkominfo S…

Jogja-KoPi|  – Selas...

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Politik Bahas Perkembangan Politik Nasional

Fisipol UGM Kumpulkan Para Pakar Po…

Jogja-KoPi| Fakultas Ilmu...

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan Solusi​ Online​ untuk UKM

Niagahoster Devcussion 2.0 Berikan …

Jogja-KoPi| Setelah sukse...

Doa bersama Memperingati Hari Kesaktian Pancasila di Masjid Al-Jihad Akmil Magelang

Doa bersama Memperingati Hari Kesak…

KoPi-Lembah Tidar. Minggu...

Prev Next

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda

Hasil penelitian kita hanya jadi alat propaganda
Indonesia memiliki ribuan sarjana dan praktisi pertanian yang cemerlang. Mereka menemukan berbagai temuan jenis tanaman dan system. Tetapi sayangnya tak banyak yang digunakan. Beberapa diantaranya, bahkan hanya sekedar menjadi alat propaganda politik.

Yogyakarta-KoPi| Banyak penemuan bidang pertanian tidak terdengar di kalangan masyarakat bahkan pemerintah cenderung menutup diri terhadap perkembangannya. Seperti kasus Padi Superto, Kediri, misalnya yang memiliki keunggulan bisa dipanen dua kali tanpa memotong tanaman padinya. 

“Padi Superto awalnya padi endemik lokal asal Purworejo. Kita olah, lalu ada teman ngambil untuk kampanye Bu Mega. Kalau yang kami tanam bisa, panen dua kali. ditambah pupuk lagi bisa tumbuh lagi dan berbuah lebih banyak. Nah itu gagal, bukan tidak ada dukungan pemerintah. Tapi dicuri tadi, buat propaganda”, papar Gati.

Sementara tanggapan Prof. Andea Santosa, tentang tidak gaungnya penemuan pertanian Indonesia disebabkan oleh dua faktor. 

Pertama, kembali lagi ke pemerintah. Berdasarkan peraturan pemeritah varietas padi yang dilempar ke masyarakat harus melalui prosedur panjang dan rumit. Misal varietas padi tersebut harus melalui proses pelepasan oleh menteri pertanian. Ketika dilepas varietas tersebut harus ditanam 20 lokasi. Setelah itu harus memiliki ijin edar. Yang melali prosedur yang rumit. Itu salah satu yang menghambat mengapa karya besar peatani. 

Kedua, masalah kebijakan. Pemerintah masa orde baru pada varietas tertentu. Misal program penyeragaman petani wajib menanam padi IR 64. 

“Dengan penyeragaman itu lalu yang dimiliki petani musnah semua. Sementara kami, berusaha mengembalikan itu semua, bekerjasama dengan petani agar petani bebas menanam”, terang Prof. Andrea.

Implikasi dari penyeragaman ini, sekalipun program tersebut sukses mengantarkan Indonesia berswasembada pangan namun setelah itu kita mengalami defisit. 

Baca:

Terbaik di Asean dalam produkvitas, toh tetap saja impor

Masuknya modal asing membuat kita harus impor pangan

Siap swasembada beras, ini syaratnya

Petani Indonesia kelas termiskin di Indonesia

back to top